Rabu, 20 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Musik

Jejak Karier Zivilia dan Ledakan Lagu Aishiteru

Liaa - Tuesday, 19 May 2026 | 10:00 PM

Background
Jejak Karier Zivilia dan Ledakan Lagu Aishiteru

Zivilia: Dari Puncak Aishiteru Hingga Melodi di Balik Jeruji Besi

Kalau kita bicara soal musik Indonesia di era akhir 2000-an dan awal 2010-an, rasanya mustahil kalau nama Zivilia nggak mampir di kepala. Bayangkan saja, waktu itu hampir di setiap sudut jalan, dari angkot yang speaker-nya sember sampai mall mewah, lagu "Aishiteru" diputar berulang-ulang sampai kita hafal di luar kepala tanpa perlu niat menghafalkannya. Zivilia bukan cuma sekadar band, mereka adalah fenomena budaya pop yang unik, menggabungkan nuansa Melayu yang mendayu-dayu dengan bumbu J-Pop yang saat itu lagi hits-hitsnya.

Zul, sang vokalis sekaligus otak di balik band ini, punya latar belakang yang nggak biasa. Sebelum namanya mentereng di panggung-panggung besar, Zul adalah seorang TKI yang mengadu nasib di Jepang. Pengalamannya di Negeri Sakura itulah yang kemudian ia bawa pulang sebagai "oleh-oleh" musikal. Siapa sangka, curhatan rindu lewat lirik campuran bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Jepang itu justru jadi tambang emas. "Aishiteru" bukan cuma lagu, itu adalah tiket VVIP Zivilia menuju puncak popularitas yang barangkali Zul sendiri nggak pernah bayangkan sebelumnya.

Gaya Zivilia itu bisa dibilang cerdik. Di tengah gempuran band-band Melayu seperti ST12 atau Kangen Band, Zivilia muncul dengan identitas yang sedikit beda. Mereka pakai embel-embel Jepang, dandanannya sedikit mengarah ke gaya Harajuku versi lokal, dan musiknya punya sentuhan synth-pop yang catchy. Hasilnya? Meledak total. Mereka jadi raja Ring Back Tone (RBT), sebuah pencapaian yang di masa itu jauh lebih prestisius dibanding jumlah streaming di Spotify zaman sekarang.

Tragedi di Tengah Kejayaan

Namun, seperti kata pepatah lama, roda itu berputar. Sayangnya bagi Zul dan Zivilia, putarannya terasa sangat ekstrem dan menyakitkan. Tahun 2019 menjadi titik balik yang gelap. Kabar tertangkapnya Zul karena kasus narkoba bukan cuma mengejutkan penggemar, tapi juga bikin publik geleng-geleng kepala. Zul nggak cuma tertangkap sebagai pengguna, tapi diduga terlibat dalam jaringan pengedar narkoba skala besar. Vonisnya pun nggak main-main: 18 tahun penjara.

Berita ini bak petir di siang bolong. Sosok yang dulunya menyanyikan lagu-lagu cinta yang manis, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit di balik jeruji besi dalam waktu yang sangat lama. Di sini, narasi Zivilia berubah total. Dari panggung-panggung gemerlap dengan ribuan penonton yang berteriak histeris, menjadi ruang kunjungan penjara yang dingin dan sempit. Nama Zivilia yang tadinya diasosiasikan dengan kerinduan, berubah menjadi simbol peringatan tentang betapa cepatnya nasib seseorang bisa berbalik jika salah melangkah.



Tapi, kalau kita bicara soal kemanusiaan, bagian paling menyentuh dari cerita Zivilia sebenarnya bukan soal Zul saja, tapi soal orang-orang di sekitarnya. Terutama Retno Paradinah, istri Zul. Kesetiaannya adalah definisi nyata dari lirik "Aishiteru" yang sesungguhnya. Di saat banyak orang mencibir atau meninggalkan, Retno tetap berdiri tegak. Dia harus banting tulang, jualan baju, jadi MUA, sampai melakukan apa saja demi menghidupi anak-anak mereka sambil terus menunggu sang suami bebas. Kisah ini bikin kita sadar kalau di balik kesalahan fatal seorang musisi, ada keluarga yang harus menanggung beban yang tak kalah berat.

Musik yang Tak Pernah Benar-benar Mati

Apakah Zivilia tamat? Secara komersial di industri arus utama, mungkin ya, mereka sempat vakum lama. Tapi secara musikalitas, Zul ternyata belum habis. Di dalam penjara, dia nggak cuma diam merenungi nasib. Zul tetap berkarya. Dia aktif dalam kegiatan kesenian di Lapas, bahkan sempat merilis lagu baru yang direkam di dalam sana dengan bantuan pihak otoritas terkait. Ini membuktikan kalau kreativitas itu nggak bisa dipenjara, mau setinggi apa pun tembok yang menghalanginya.

Zul bahkan sempat manggung di beberapa acara resmi Lapas dengan kualitas vokal yang katanya masih oke punya. Melihatnya tampil lagi—meski dengan seragam warga binaan—memberikan perasaan campur aduk bagi siapa pun yang menonton. Ada rasa miris melihat bakat besar yang "tersia-siakan" di balik jeruji, tapi ada juga rasa kagum karena dia tetap berusaha produktif di tengah titik terendah hidupnya.

Melihat fenomena Zivilia hari ini, kita seperti sedang melihat artefak berharga dari masa lalu yang penuh warna sekaligus penuh luka. Lagu-lagu mereka masih sering diputar di TikTok atau YouTube oleh generasi yang mungkin baru lahir saat "Aishiteru" pertama kali rilis. Musik mereka punya daya tahan yang aneh; meski sudah lewat satu dekade, melodinya tetap nempel di kepala seperti lem super.

Pelajaran dari Sang Vokalis

Apa yang bisa kita petik dari perjalanan Zivilia? Mungkin ini soal keseimbangan antara bakat dan pilihan hidup. Menjadi populer itu sulit, tapi menjaga diri di tengah popularitas jauh lebih menantang. Zivilia mengajarkan kita bahwa kesuksesan bisa datang secepat kilat, tapi kehancuran bisa datang lebih cepat lagi jika kita nggak hati-hati mengemudikan hidup.



Tapi lebih dari itu, Zivilia adalah tentang harapan dan penebusan. Kita melihat Zul yang terus berusaha memperbaiki diri, dan kita melihat keluarga yang tak pernah putus asa. Mungkin suatu saat nanti, jika Zul sudah menyelesaikan masa hukumannya, kita akan melihat reuni Zivilia yang sesungguhnya. Entah itu di panggung besar atau sekadar di kanal YouTube, satu hal yang pasti: lagu "Aishiteru" akan selalu punya tempat khusus di hati para penikmat musik Indonesia, terlepas dari segala kontroversi yang menyertainya.

Zivilia bukan cuma soal band yang pernah jaya lalu tumbang. Mereka adalah cermin dari realita industri hiburan kita—tempat di mana mimpi bisa jadi nyata, namun mimpi buruk juga selalu mengintai di balik panggung. Jadi, buat kamu yang mungkin hari ini nggak sengaja dengerin lagi lagu mereka, coba deh resapi liriknya lagi. Kadang, sebuah lagu punya makna yang jauh lebih dalam ketika kita tahu perjuangan berdarah-darah di balik orang-orang yang menciptakannya.