Ignaz Semmelweis, Ditertawakan karena Mengajarkan Cuci Tangan, Padahal Bisa Menyelamatkan Ribuan Nyawa
RAU - Friday, 24 April 2026 | 08:05 AM


Siapa Ignaz Semmelweis?
Pada pertengahan tahun 1800-an, rumah sakit di Wina, Austria, memiliki dua ruang bersalin.
Yang menarik—dan mengerikan—adalah perbedaan angka kematian antara keduanya.
Di satu ruang bersalin yang digunakan oleh dokter dan mahasiswa kedokteran, angka kematian ibu melahirkan sangat tinggi.
Banyak wanita meninggal akibat demam setelah melahirkan, yang saat itu disebut childbed fever.
Sementara di ruang lain yang ditangani oleh bidan, angka kematian jauh lebih rendah.
Ignaz Semmelweis, seorang dokter muda Hungaria keturunan Jerman di Klinik Obstetri Rumah Sakit tersebut, mulai memperhatikan pola ini.
Ia kemudian menemukan fakta penting:
para dokter sering melakukan autopsi (pemeriksaan jenazah), lalu tanpa mencuci tangan, langsung menangani pasien melahirkan.
Dari pengamatan itu, Semmelweis membuat langkah sederhana: mencuci tangan dengan larutan kaporit sebelum menangani pasien.Saat itu fokusnya adalah untuk ibu ibu yang melahirkan.
Hasilnya mengejutkan. Angka kematian turun drastis, bahkan hingga lebih dari separuh.
Namun di sinilah masalah besar dimulai.
Ditolak oleh dunia medis
Walaupun telah menerbitkan hasil yang menunjukkan bahwa disinfeksi tangan mengurangi tingkat kematian hingga di bawah 1%, pengamatan Semmelweis bertentangan dengan pendapat medis yang diterima pada saat itu, sehingga komunitas kedokteran menolak gagasan ini. Semmelweis tidak dapat menjelaskan secara ilmiah mengapa penemuannya bisa menurunkan tingkat kematian, dan beberapa dokter merasa tersinggung dengan usulan agar mereka mencuci tangan terlebih dahulu.
Pada masa itu, konsep "kuman" belum dikenal luas. Banyak dokter tidak percaya bahwa sesuatu yang tidak terlihat bisa menyebabkan penyakit.
Bagi mereka, menyalahkan tangan dokter dianggap merendahkan profesi medis itu sendiri.
Semmelweis pun mengalami tekanan besar, hingga mengalami gangguan kejiwaan karena dia mendapatkan kritik negatif bertubi tubi.
kehilangan posisi, dan akhirnya hidup dalam kesedihan dan frustrasi.
Sehingga akhirnya dia meninggal dunia di Rumah Sakit Jiwa di usianya yang ke 47 tahun.
Ironisnya, beberapa dekade setelah kematiannya, dunia baru memahami kebenaran yang ia temukan.
Dengan berkembangnya teori kuman oleh Louis Pasteur dan Joseph Lister, praktik cuci tangan menjadi standar dasar dalam dunia medis m
Hari ini, setiap prosedur medis di dunia-dari operasi besar sampai tindakan kecil-tidak pernah lepas dari prinsip sederhana yang dulu pernah ditertawakan: kebersihan tangan menyelamatkan nyawa.
Next News

Mengapa Mie Ayam yang Sudah Dingin Cenderung Menggumpal? Ini Penjelasan Ilmiahnya
12 hours ago

Gelembung di Permukaan Kolam Bisa Menjadi Petunjuk Adanya Gas yang Terlepas
12 hours ago

Warna Hijau pada Air Tidak Selalu Menandakan Air Tersebut Bersih, Ini Penjelasannya
12 hours ago

Panorama Gurun Tidak Selalu Berwarna Cokelat, Ada yang Memiliki Nuansa Merah
12 hours ago

Mengapa Kita Bisa Tersentak saat Baru Mulai Tertidur? Ini Penjelasan Ilmiahnya
12 hours ago

Mengapa Gelas Kaca Terkadang Mengeluarkan Bunyi Nyaring saat Diisi Air? Ini Penjelasannya
12 hours ago

Gelas Kaca Bisa Pecah saat Dituangi Air Panas, Ini Penyebabnya
12 hours ago

Mengapa Tulisan di Cermin Terlihat Terbalik dari Kiri ke Kanan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
12 hours ago

Pemandangan Sawah Bertingkat Menunjukkan Cara Manusia Beradaptasi dengan Alam
12 hours ago

Mengapa Pemandangan Pegunungan Terlihat Berlapis saat Dilihat dari Kejauhan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
12 hours ago





