Hoarding Disorder: Si Penumpuk Barang
Nanda - Tuesday, 17 March 2026 | 08:59 AM


Pernah melihat rumah yang penuh barang sampai sulit berjalan?
Atau mungkin…
kamu sendiri pernah merasa berat sekali membuang sesuatu, bahkan yang sebenarnya sudah tidak terpakai?
Di titik tertentu, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi kondisi yang disebut:
Hoarding Disorder.
*Apa Itu Hoarding Disorder?*
Dalam dunia Psikologi, Hoarding Disorder adalah gangguan yang ditandai dengan:
•kesulitan ekstrem membuang barang
•keinginan kuat untuk menyimpan semua hal
•rasa cemas atau tertekan saat harus membuang sesuatu.
Akibatnya, barang menumpuk hingga:
•mengganggu ruang hidup
•menyulitkan aktivitas sehari-hari
•bahkan bisa membahayakan (misalnya risiko kebakaran).
Orang dengan Hoarding Disorder bukan:
•pemalas
•tidak peduli kebersihan
Mereka justru sering merasa:
•cemas
•takut kehilangan
•sangat terikat secara emosional
Dalam banyak kasus, mereka sadar rumahnya penuh…
tapi tidak mampu menghentikan kebiasaan itu.
Kenapa Bisa Terjadi?
Dalam penelitian Psikologi, ada beberapa penyebab utama:
1. Keterikatan Emosional Berlebihan
Barang dianggap memiliki nilai sentimental yang tinggi.
Bahkan benda kecil seperti:
-tiket lama
-botol kosong
-kertas bekas
bisa terasa "terlalu berharga" untuk dibuang.
2. Trauma Masa Lalu
Orang yang pernah mengalami:
-kehilangan besar
-kekurangan ekonomi
-peristiwa emosional berat
-cenderung lebih sulit melepaskan barang.
Karena bagi mereka, menyimpan = bentuk perlindungan diri.
3. Gangguan Pengambilan Keputusan
Penderita sering merasa:
-bingung menentukan mana yang penting
takut salah membuang
Akhirnya… semuanya disimpan.
4. Rasa Aman dari Barang
Dalam teori Attachment Theory, manusia bisa membentuk "ikatan" dengan benda.
Barang menjadi seperti:
-teman
-pelindung
-pengingat identitas diri
Apa Bedanya dengan Sekadar "Suka Menyimpan"?
Ini yang sering bikin bingung.
Dilihat dari batasannya
•• Normal:
masih bisa memilah
rumah tetap rapi
menyimpan karena kenangan
••Mengarah ke Hoarding Disorder:
•tidak bisa membuang sama sekali
•barang menumpuk tanpa kontrol
••kehidupan terganggu
*Dampak yang Sering Tidak Terlihat*
Selain fisik, dampaknya juga ke mental:
•stres dan kecemasan
•rasa malu
•menarik diri dari lingkungan sosial
Bahkan, dalam beberapa kasus, hubungan keluarga bisa terganggu.
*Bisakah Disembuhkan?*
Kabar baiknya: bisa dikelola dan ditangani.
Pendekatan yang umum digunakan:
•Terapi perilaku kognitif (CBT)
•Latihan pengambilan keputusan
•Pendampingan bertahap untuk mengurangi barang
Yang paling penting:
bukan memaksa membuang…
tapi memahami alasan di baliknya.
*Cara Membantu (Jika Ada di Sekitar Kita)*
Kalau kamu menemukan orang dengan kondisi ini:
-Jangan menghakimi
-jangan langsung membuang barangnya
-ajak bicara dengan empati
-bantu pelan-pelan, bukan sekaligus.
Karena bagi mereka,
setiap barang punya "cerita".
Kadang yang terlihat seperti "tumpukan barang",
sebenarnya adalah
tumpukan rasa yang belum selesai.
Dan Hoarding Disorder mengingatkan kita bahwa
manusia tidak hanya menyimpan benda—
tapi juga menyimpan luka, kenangan, dan rasa aman.
Next News

Sayur Direbus, Dikukus, atau Ditumis: Mana yang Paling Sehat?
12 hours ago

Benarkah Tempe Bisa Menggantikan Protein dari Daging?
12 hours ago

Tahu vs Tempe, Mana yang Lebih Bergizi?
13 hours ago

Tanda Skin Barrier Rusak yang Sering Disalahartikan sebagai Kulit Kusam
13 hours ago

Sunscreen adalah Skincare Anti-Aging Terbaik.Ini Alasannya
13 hours ago

Dulu dari Batu, Kini Super Empuk: Sejarah Bantal yang Jarang Diketahui
14 hours ago

Kunci Punya Nyawa? Simak Alasan Benda Kecil Ini Suka Sembunyi
2 hours ago

Posisi Tidur dan Dampaknya pada Kesehatan Tubuh
14 hours ago

Kolagen: Lebih Efektif yang Diminum atau Dioles?
14 hours ago

Kenapa Umur 35 Kelihatan Lebih Muda dari Umur 20? Ini Alasannya
2 hours ago





