Cermai Punya Rasa Asam yang Khas, Dulu Sering Dijadikan Rujak dan Manisan
Laila - Monday, 12 October 2026 | 12:16 PM


Indonesia memiliki beragam buah tradisional yang pernah menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat. Salah satunya adalah cermai, buah berukuran kecil yang terkenal dengan rasa asamnya. Buah ini sering dimanfaatkan sebagai bahan berbagai olahan rumahan, mulai dari rujak hingga manisan yang memadukan rasa asam dan manis.
Bagi sebagian orang, cermai mengingatkan pada jajanan tradisional yang dahulu mudah dijumpai di lingkungan rumah atau pasar. Rasanya yang khas membuat buah ini memiliki penggemar tersendiri, terutama bagi mereka yang menyukai makanan dengan sensasi asam menyegarkan.
Meski tidak selalu mudah ditemukan di toko buah modern, cermai masih dikenal di sejumlah daerah. Tanamannya dapat tumbuh di pekarangan rumah, kebun, atau lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan tumbuhnya.
Mengenal Buah Cermai yang Bercita Rasa Asam
Cermai atau Phyllanthus acidus merupakan buah tropis yang memiliki bentuk bulat kecil dengan permukaan berlekuk. Buahnya tumbuh bergerombol pada ranting dan umumnya berwarna hijau muda hingga kekuningan ketika matang.
Berbeda dari buah yang memiliki rasa manis dominan, cermai dikenal karena tingkat keasamannya yang cukup kuat. Karakter tersebut membuatnya cocok digunakan sebagai bahan makanan yang membutuhkan perpaduan rasa asam, manis, dan terkadang pedas.
Buah cermai dapat dimanfaatkan ketika masih segar maupun diolah terlebih dahulu. Namun, tingkat keasaman dan teksturnya bisa berbeda bergantung pada kematangan buah serta cara pengolahannya.
Cermai Sering Diolah Menjadi Rujak
Salah satu cara menikmati cermai adalah menjadikannya bahan rujak. Rasa asam buah ini dapat berpadu dengan bumbu rujak yang biasanya terdiri dari cabai, gula merah, garam, dan bahan lain sesuai selera.
Perpaduan tersebut menghasilkan sensasi rasa yang beragam dalam satu sajian. Rasa asam cermai bertemu dengan manisnya gula merah dan pedasnya cabai sehingga menciptakan cita rasa yang khas.
Cermai juga dapat dipadukan dengan buah-buahan lain dalam satu hidangan. Meski begitu, penggunaan bumbu sebaiknya disesuaikan dengan selera agar rasa asamnya tidak terlalu mendominasi.
Bagi pencinta makanan tradisional, rujak cermai menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan rujak yang menggunakan mangga muda, kedondong, atau jambu air.
Diolah Menjadi Manisan yang Manis dan Segar
Selain rujak, cermai juga sering dimanfaatkan untuk membuat manisan. Pengolahan ini bertujuan menghasilkan cita rasa yang lebih seimbang dengan memadukan rasa asam alami buah dan rasa manis dari gula.
Dalam proses pembuatannya, cermai dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diolah menggunakan larutan gula sesuai resep. Beberapa cara pengolahan juga melibatkan perendaman atau perebusan agar rasa dan tekstur buah lebih sesuai untuk dijadikan manisan.
Manisan cermai dapat menjadi camilan tradisional yang menarik bagi orang yang menyukai perpaduan rasa asam dan manis. Namun, jumlah gula yang digunakan perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang harus membatasi asupan gula harian.
Pengolahan menjadi manisan juga memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan karakter alami buah lokal untuk menciptakan variasi makanan yang dapat dinikmati dengan cara berbeda.
Mengapa Cermai Mulai Jarang Dikenal Anak Muda?
Perubahan pola konsumsi menjadi salah satu hal yang dapat memengaruhi popularitas buah tradisional. Saat ini, masyarakat memiliki banyak pilihan camilan, mulai dari makanan ringan kemasan hingga aneka olahan buah yang dijual secara luas.
Di sisi lain, tanaman cermai tidak selalu tersedia di setiap lingkungan. Pekarangan yang dahulu ditanami beragam pohon buah kini di sejumlah tempat telah berubah menjadi bangunan atau digunakan untuk kebutuhan lain. Kondisi ini membuat kesempatan untuk mengenal cermai secara langsung menjadi lebih terbatas.
Kurangnya pengenalan buah lokal di lingkungan keluarga juga dapat memengaruhi pengetahuan generasi muda. Jika anak-anak lebih sering mengenal buah yang tersedia di supermarket, mereka mungkin tidak mengetahui jenis buah tradisional yang pernah populer pada masa sebelumnya.
Meski demikian, cermai masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah dan tetap dimanfaatkan oleh masyarakat yang mengenalnya. Popularitasnya mungkin berbeda-beda, bergantung pada ketersediaan tanaman dan kebiasaan kuliner setempat.
Kandungan Gizi dan Cara Menikmati Cermai
Seperti buah lainnya, cermai mengandung air dan sejumlah zat gizi, termasuk vitamin C. Buah ini dapat menjadi bagian dari pola makan beragam apabila dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai.
Namun, mengonsumsi cermai tidak serta-merta menyembuhkan penyakit atau memberikan manfaat kesehatan tertentu secara langsung. Pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehat tetap menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan tubuh.
Bagi orang yang sensitif terhadap makanan asam atau memiliki masalah lambung tertentu, konsumsi cermai sebaiknya disesuaikan dengan toleransi masing-masing. Jika menimbulkan rasa tidak nyaman, jumlah konsumsinya dapat dikurangi atau dihentikan.
Cermai dapat dinikmati dalam keadaan segar setelah dicuci bersih maupun diolah menjadi rujak dan manisan. Pemilihan buah yang baik, kebersihan selama pengolahan, serta penggunaan gula secara wajar menjadi hal penting agar sajian tetap aman dan sesuai kebutuhan.
Buah Tradisional yang Layak Dikenalkan Kembali
Cermai bukan sekadar buah kecil dengan rasa asam yang kuat. Buah ini juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional Indonesia yang memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal.
Mengenalkan cermai kembali kepada generasi muda dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, seperti menanam pohonnya di pekarangan, memperkenalkannya di sekolah, atau membuat olahan tradisional bersama keluarga.
Dengan cara tersebut, buah cermai tidak hanya dikenal melalui cerita masa lalu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman kuliner generasi sekarang. Keberadaan buah lokal seperti cermai menunjukkan bahwa kekayaan pangan Indonesia tidak terbatas pada buah-buahan populer yang banyak dijual di pasaran, tetapi juga mencakup berbagai jenis buah tradisional dengan cita rasa unik.
Next News

Tradisi Makan Bersama di Atas Daun Pisang, Kebiasaan yang Mempererat Kebersamaan
7 days ago

Menyimpan Uang di Celengan Ayam, Cara Menabung yang Pernah Populer di Rumah
in 6 hours

Telepon Putar dengan Angka Melingkar, Begini Cara Menggunakannya pada Zaman Dulu
in 6 hours

Congklak Bukan Sekadar Permainan, Ada Strategi Berhitung di Baliknya
in 6 hours

Permainan Kelereng yang Dulu Bisa Membuat Anak-Anak Lupa Waktu
in 6 hours

Gulali Rambut Nenek, Jajanan Tipis seperti Kapas yang Pernah Populer di Kalangan Anak-Anak
in 6 hours

Kedondong Hutan yang Rasanya Asam Segar, Pernah Jadi Favorit Pencinta Buah Jadul
in 6 hours

Buah Lobi-Lobi yang Dulu Sering Dimakan Anak-Anak, Kini Mulai Jarang Ditemukan
in 6 hours

Mengapa Air Bersih Perlu Disimpan dalam Wadah yang Tertutup? Ini Alasannya
in 4 hours

Mencuci Buah dengan Air Bersih, Apakah Sudah Cukup untuk Menghilangkan Kuman?
in 4 hours





