Selasa, 6 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Biji Ceri Tidak Dimakan, Ini Alasan yang Perlu Diketahui

Tata - Tuesday, 06 October 2026 | 05:11 PM

Background
Biji Ceri Tidak Dimakan, Ini Alasan yang Perlu Diketahui

Ceri merupakan buah berukuran kecil yang memiliki rasa manis hingga sedikit asam. Buah ini sering dikonsumsi secara langsung atau digunakan sebagai bahan dalam berbagai makanan dan minuman. Namun, berbeda dengan daging buahnya, bagian biji ceri tidak dianjurkan untuk dimakan.

Biji ceri berada di bagian tengah buah dan memiliki tekstur yang keras. Ketika mengonsumsi ceri secara langsung, biji biasanya akan terasa keras sehingga secara alami sulit untuk ditelan. Meski begitu, biji tersebut tetap perlu diperhatikan, terutama jika buah diberikan kepada anak-anak yang mungkin belum memahami bagian mana yang dapat dimakan.

Salah satu alasan biji ceri tidak dianjurkan untuk dikonsumsi berkaitan dengan kandungan senyawa alami di dalamnya. Biji dari kelompok buah tertentu, termasuk ceri, mengandung senyawa yang dikenal sebagai glikosida sianogenik. Senyawa ini dapat menghasilkan hidrogen sianida ketika jaringan biji mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut menjadi lebih penting ketika biji ceri dikunyah, digigit, dihancurkan, atau diolah dengan cara yang membuat bagian dalam biji terbuka. Dalam keadaan seperti itu, senyawa yang terdapat di dalam biji dapat mengalami proses yang menghasilkan senyawa sianida.

Namun, hal ini tidak berarti daging buah ceri berbahaya untuk dikonsumsi. Bagian daging buah merupakan bagian yang biasa dimakan dan berbeda dari bijinya. Karena itu, ceri dapat dinikmati dengan cara memisahkan daging buah dari bagian keras di tengahnya.



Risiko terutama berkaitan dengan biji yang rusak atau dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Menelan satu biji ceri secara utuh juga berbeda kondisinya dengan mengunyah biji hingga pecah. Biji yang tertelan tanpa dikunyah umumnya tidak mengalami proses yang sama seperti biji yang dihancurkan, tetapi tetap lebih baik tidak sengaja menelannya dan segera membuang bijinya.

Jumlah paparan juga menjadi salah satu faktor yang menentukan tingkat risiko. Kandungan senyawa pada biji tidak otomatis berarti setiap kontak dengan satu biji akan menyebabkan keracunan. Meski demikian, tidak ada alasan untuk sengaja mengonsumsi atau mengunyah biji ceri karena bagian tersebut memang bukan bagian buah yang ditujukan untuk dimakan.

Biji ceri juga tidak sebaiknya dijadikan bahan tambahan makanan hanya karena dianggap memiliki kandungan tertentu. Pengolahan rumahan yang tidak tepat dapat membuat bagian biji menjadi rusak dan meningkatkan kemungkinan terpaparnya senyawa yang terdapat di dalamnya.

Cara paling sederhana untuk menikmati buah ceri adalah dengan mengambil daging buahnya dan membuang bijinya. Jika ceri digunakan untuk membuat kue, selai, jus, atau hidangan lainnya, biji sebaiknya dikeluarkan terlebih dahulu. Penggunaan alat khusus penghilang biji dapat membantu memisahkan bagian tersebut dengan lebih mudah.

Perhatian juga perlu diberikan ketika ceri diberikan kepada anak-anak. Selain risiko terkait senyawa di dalam biji, biji ceri yang keras juga dapat menjadi benda yang berisiko tertelan. Karena itu, orang dewasa sebaiknya mengeluarkan biji terlebih dahulu sebelum memberikan buah ceri kepada anak.



Apabila seseorang tidak sengaja mengunyah atau memakan biji ceri dan kemudian mengalami keluhan seperti pusing, sakit kepala, mual, muntah, kesulitan bernapas, kebingungan, atau kondisi lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis. Gejala tersebut tidak boleh dianggap sepele karena paparan sianida dalam jumlah berbahaya dapat mengganggu kemampuan tubuh menggunakan oksigen.

Penting pula untuk membedakan antara biji ceri dan daging buahnya. Kekhawatiran mengenai biji tidak berarti buah ceri secara keseluruhan harus dihindari. Selama bijinya dipisahkan, daging buah ceri dapat menjadi salah satu pilihan buah dalam pola makan yang beragam.

Dengan demikian, alasan biji ceri tidak dimakan bukan sekadar karena teksturnya keras. Bagian tersebut memiliki senyawa alami yang dapat menghasilkan hidrogen sianida ketika bijinya rusak, terutama saat dikunyah atau dihancurkan. Kebiasaan sederhana membuang biji sebelum mengonsumsi ceri menjadi langkah yang tepat untuk menjaga keamanan makanan.