Kamis, 9 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Berapa Lama Durasi Olahraga yang Ideal?

Laila - Thursday, 09 July 2026 | 07:35 PM

Background
Berapa Lama Durasi Olahraga yang Ideal?

Dilema Kaum Rebahan: Sebenarnya Kita Perlu Olahraga Berapa Lama Sih?

Mari kita jujur-jujuran. Kapan terakhir kali kamu merasa sangat bersemangat untuk olahraga, lalu setelah sepuluh menit di atas treadmill, kamu mulai bertanya-tanya pada semesta, "Kapan ini berakhir?" atau "Apakah lemak di perutku sudah luntur?". Kita semua pernah di sana. Di antara gempuran konten influencer yang pamer otot di Instagram dan rasa malas yang mendarah daging setelah seharian menatap layar laptop, pertanyaan tentang durasi olahraga yang ideal selalu jadi perdebatan yang nggak habis-habis.

Ada yang bilang kalau nggak sejam itu nggak ngaruh. Ada lagi yang bilang tujuh menit aja cukup asal intens. Akhirnya, kita malah pusing sendiri, lalu memutuskan untuk menutup tab pencarian dan kembali memesan kopi susu gula aren sambil scrolling TikTok. Padahal, urusan durasi ini sebenarnya nggak sesakral itu, tapi juga nggak bisa disepelekan kalau kamu nggak mau sekadar dapat capeknya doang.

Aturan Main dari Para Ahli (Tanpa Bahasa Robot)

Kalau kita mengintip catatan dari Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO, mereka sebenarnya sudah kasih "contekannya". Biar nggak dianggap kaum rebahan kelas berat, orang dewasa disarankan buat olahraga intensitas sedang sekitar 150 sampai 300 menit per minggu. Nah, kalau kamu tipenya yang suka gaspol dengan intensitas tinggi, durasinya bisa dipangkas jadi 75 sampai 150 menit saja.

Kalau angka-angka itu dijabarkan ke rutinitas harian, berarti kamu cuma butuh sekitar 30 menit sehari selama lima hari dalam seminggu. Terdengar gampang, kan? Tapi praktiknya, 30 menit itu bisa terasa seperti tiga jam kalau kamu menjalaninya dengan rasa terpaksa atau sekadar gugur kewajiban. Masalahnya, durasi ideal itu sangat bergantung pada apa yang sebenarnya ingin kamu capai. Apakah mau menurunkan berat badan setelah kalap makan martabak semalam, atau cuma mau jantung lebih kuat biar nggak gampang ngos-ngosan pas naik tangga kantor?

Kualitas vs Kuantitas: Jangan Cuma Lama-lamaan di Gym

Pernah nggak kamu lihat orang di gym yang nongkrong sampai dua jam, tapi 80 persen waktunya habis buat main HP atau ngobrol sama temen sebelahnya? Nah, ini dia jebakannya. Durasi lama nggak menjamin hasil maksimal. Sebaliknya, ada orang yang cuma latihan 20 menit tapi keringatnya sudah kayak orang habis mandi. Itulah kekuatan intensitas.



Ada sebuah metode yang namanya HIIT (High-Intensity Interval Training). Ini adalah penyelamat buat kita-kita yang sok sibuk tapi pengen tetap bugar. Dengan HIIT, kamu mungkin cuma butuh 15-20 menit, tapi detak jantungmu dipacu sampai level maksimal. Hasilnya? Pembakaran kalori tetap berlanjut bahkan setelah kamu selesai olahraga. Jadi, mending mana: sejam jalan santai sambil lihat-lihat pemandangan atau 15 menit olahraga serius sampai napas rasanya sudah di kerongkongan? Jawabannya balik lagi ke preferensi masing-masing, tapi poinnya adalah: jangan tertipu sama durasi.

Beda Goal, Beda Durasi

Mari kita breakdown sedikit biar lebih jelas. Kalau tujuanmu adalah:

  • Kesehatan Jantung: Cukup 30 menit jalan cepat atau bersepeda santai setiap hari. Ini buat kamu yang cuma pengen hidup lebih lama dan nggak gampang sakit.
  • Menurunkan Berat Badan: Kamu mungkin butuh waktu lebih lama, sekitar 45 sampai 60 menit. Kenapa? Karena tubuh butuh waktu buat "memanas" sebelum benar-benar membakar cadangan lemak. Tapi ingat, ini juga harus dibarengi dengan jaga makan. Jangan habis lari satu jam terus merasa berhak makan nasi padang porsi kuli.
  • Membentuk Otot: Fokusnya bukan lagi di durasi jam-jaman, tapi di set dan repetisi. Angkat beban selama 45 menit sudah sangat cukup asalkan otot yang dilatih benar-benar sampai "lelah".

Fenomena Weekend Warrior: Boleh Nggak Sih Dirapel?

Banyak dari kita yang punya jadwal kerja gila-gilaan dari Senin sampai Jumat. Alhasil, olahraga cuma bisa dilakukan di hari Sabtu atau Minggu. Pertanyaannya, boleh nggak sih durasi 150 menit seminggu itu dihajar dalam satu hari sekaligus? Fenomena ini sering disebut "Weekend Warrior".

Secara medis, mending olahraga sekali seminggu daripada nggak sama sekali. Tapi, risiko cedera bakal mengintai kalau kamu tiba-tiba memaksa tubuh yang sudah "karatan" selama lima hari buat langsung lari maraton atau angkat beban berat. Tubuh kita itu butuh adaptasi. Bayangkan mesin mobil yang jarang dipanasin terus tiba-tiba disuruh ngebut di tol; ada kemungkinan mesinnya jebol. Begitu juga otot dan sendi kita.

Mendengarkan Tubuh Sendiri (Self-Awareness Itu Kunci)

Di atas semua teori durasi, ada satu hal yang paling penting: dengarkan badanmu sendiri. Kadang kita terlalu terobsesi sama angka di jam pintar atau target di aplikasi. Kalau badanmu sudah kasih sinyal nyeri yang nggak wajar atau rasa lelah yang luar biasa (overtraining), itu tandanya kamu harus berhenti, nggak peduli durasimu baru jalan lima menit.



Olahraga itu seharusnya jadi investasi jangka panjang, bukan proyek Roro Jonggrang yang harus jadi dalam semalam. Kalau hari ini cuma sanggup 10 menit karena kerjaan lagi numpuk, ya nggak apa-apa. Itu jauh lebih baik daripada nggak gerak sama sekali. Yang bikin orang gagal olahraga itu biasanya karena mereka menetapkan target durasi yang terlalu muluk di awal, lalu merasa gagal saat nggak bisa memenuhinya, dan akhirnya berhenti total.

Jadi, berapa lama durasi olahraga yang ideal? Jawabannya adalah durasi yang bisa kamu lakukan secara konsisten tanpa merasa itu sebagai beban hidup tambahan. Mau 15 menit, 30 menit, atau sejam, yang paling penting adalah kamu melakukannya hari ini, besok, dan lusa. Konsistensi itu jauh lebih mahal harganya daripada durasi yang lama tapi cuma dilakukan sekali sebulan. Yuk, mulai gerak sekarang, mumpung niatnya masih ada!

Tags