Jumat, 1 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Benarkah Minum Es Bikin Flu, Mitos atau Fakta?

Laila - Friday, 01 May 2026 | 12:50 PM

Background
Benarkah Minum Es Bikin Flu, Mitos atau Fakta?

Antara Es Teh Manis dan Omelan Ibu: Benarkah Minum Es Bikin Flu?

Bayangkan pemandangan ini: Siang bolong, matahari lagi semangat-semangatnya unjuk rasa tepat di atas kepala, dan suhu udara di luar mencapai 34 derajat Celcius. Rasanya kayak lagi simulasi di dalam oven. Di saat seperti itu, godaan paling besar umat manusia bukanlah diskon belanja online, melainkan segelas es teh manis plastik yang embun dinginnya mengalir cantik di pinggiran gelas. Sekali teguk, nyesss, rasanya separuh beban hidup langsung terangkat.

Tapi, kebahagiaan itu seringkali hanya bertahan lima detik sebelum suara maut terdengar dari arah dapur. "Jangan minum es terus, nanti flu! Baru juga sembuh kemarin!" Kalimat sakti dari Ibu atau Mbak di rumah ini sudah seperti mantra turun-temurun yang mendarah daging di masyarakat kita. Seolah-olah, es batu adalah musuh bebuyutan sistem imun yang siap meledakkan bom virus di tenggorokan kita kapan saja.

Pertanyaannya: Benarkah es adalah biang kerok flu, atau jangan-jangan kita selama ini cuma jadi korban hoaks medis yang paling awet sepanjang sejarah Indonesia? Mari kita bedah pelan-pelan sambil menyeruput minuman dingin favorit kita.

Virus vs Suhu: Siapa yang Salah?

Secara medis, kita perlu meluruskan satu hal yang sangat mendasar: Flu atau influenza itu disebabkan oleh virus, bukan oleh air yang membeku. Virus nggak tiba-tiba muncul di dalam es batu hasil freezer rumahmu kecuali air yang kamu pakai memang sudah tercemar. Jadi, menyalahkan es sebagai penyebab langsung flu itu ibarat menyalahkan sepatu karena kamu kalah main bola. Ya, ada hubungannya secara nggak langsung, tapi bukan itu penyebab utamanya.

Flu menular lewat droplet atau percikan cairan saat orang sakit bersin atau batuk. Nah, virus-virus ini justru lebih suka cuaca yang dingin dan kering untuk bertahan hidup lebih lama di udara. Inilah alasan kenapa di negara-negara empat musim, kasus flu melonjak tajam saat musim dingin. Tapi ingat, orang kena flu karena virusnya berhasil masuk ke tubuh, bukan karena mereka makan salju.



Lalu kenapa mitos ini begitu kuat? Karena ada fenomena yang namanya vasokonstriksi. Saat kita minum air es yang sangat dingin, pembuluh darah di sekitar tenggorokan dan saluran pernapasan kita bakal menyempit. Hal ini bisa membuat lapisan lendir di tenggorokan jadi agak terganggu fungsinya sebagai benteng pertahanan pertama. Kalau bentengnya lagi lemah dan kebetulan ada virus lewat, ya sudahlah, goal! Kamu pun jatuh sakit.

Es Balok dan Drama Higienitas

Di Indonesia, masalahnya bukan cuma soal suhu dinginnya, tapi soal "siapa" es batu itu sebenarnya. Kita harus jujur, es teh manis yang kita beli di pinggir jalan seringkali menggunakan es balok yang proses distribusinya kadang bikin kita geleng-geleng kepala. Es balok yang diseret di aspal, dibungkus karung goni yang entah sudah dipakai berapa tahun, lalu dipecahkan pakai palu karatan.

Nah, kalau kamu flu setelah minum es model beginian, ya jangan salahkan suhunya. Salahkan bakteri, kuman, atau jejak debu jalanan yang menempel di es tersebut. Terkadang yang kita alami bukan flu murni, tapi infeksi tenggorokan atau radang karena kualitas air yang tidak higienis. Ini adalah kearifan lokal yang pahit, namun nyata. Jadi, omelan Ibu mungkin ada benarnya kalau sumber esnya nggak jelas asal-usulnya.

Efek Sugesti yang Terlalu Kuat

Kita juga nggak bisa mengabaikan kekuatan pikiran atau placebo effect versi negatif (nocebo). Sejak kecil kita sudah didoktrin kalau minum es itu jahat. Alhasil, setiap kali tenggorokan terasa sedikit gatal setelah minum es, otak kita langsung memberikan sinyal: "Nah, bener kan kata Ibu, aku mau sakit nih."

Padahal mungkin saja saat itu kondisi badan kita memang lagi drop karena kurang tidur atau telat makan. Minum es hanya menjadi pemicu akhir yang memicu reaksi sensitivitas di saluran pernapasan. Buat sebagian orang yang punya alergi dingin, minum es memang bisa bikin hidung meler atau bersin-bersin. Tapi ingat, bersin karena alergi dingin itu beda jauh dengan flu yang disebabkan virus. Yang satu hilang setelah tubuh hangat, yang satu butuh istirahat berhari-hari.



Lalu, Harus Berhenti Minum Es?

Tentu saja tidak. Hidup di khatulistiwa tanpa es adalah sebuah siksaan yang nggak perlu kita jalani. Tapi, kita perlu jadi peminum es yang cerdas. Kalau kamu lagi merasa badan agak nggak enak, ya ada baiknya rem dulu keinginan minum yang dingin-dingin. Berikan kesempatan tubuhmu untuk fokus menjaga suhu inti tetap stabil guna melawan bibit penyakit yang mungkin sudah mengintai.

Tips lainnya, pastikan es yang kamu konsumsi itu food grade atau buatan sendiri dari air matang. Dan yang paling penting, jangan minum es sambil dengerin omelan orang tua, karena stres akibat diomeli justru lebih cepat menurunkan imun tubuh daripada segelas es itu sendiri. Bercanda, ya!

Kesimpulan: Mitos yang Ada Benarnya Dikit

Jadi, minum es bikin flu itu adalah mitos jika kita bicara soal penyebab langsung. Es tidak mengandung virus flu secara ajaib. Namun, minum es bisa jadi fakta sebagai pemicu kalau kondisi tubuhmu lagi lemah, airnya kotor, atau kamu punya sensitivitas berlebih terhadap suhu dingin.

Kesimpulannya, teruslah nikmati es teh manismu, tapi tetap jaga kesehatan secara keseluruhan. Cuci tangan sebelum makan, tidur yang cukup, dan jangan lupa makan sayur. Dengan begitu, sistem imunmu bakal sekuat baja, bahkan kalaupun kamu nekat minum es saat hujan badai sekalipun. Es hanyalah es, dia bukan penjahat, dia cuma butuh dimengerti di waktu yang tepat.