Selasa, 14 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Apakah Pertemananmu Sehat? Kenali Ciri-Ciri Teman Toxic Ini

Tata - Tuesday, 14 April 2026 | 01:52 PM

Background
Apakah Pertemananmu Sehat? Kenali Ciri-Ciri Teman Toxic Ini

Pertemanan idealnya menjadi hubungan yang saling memberi dukungan dan energi positif. Namun, dalam praktiknya tidak semua hubungan berjalan sehat. Ada kalanya pertemanan justru menjadi sumber tekanan dan kelelahan emosional.

Psikiater Elisabeth Netherton menjelaskan bahwa pertemanan yang sehat bersifat timbal balik, di mana kedua pihak saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Jika keseimbangan ini tidak terjadi, hubungan tersebut berpotensi menjadi tidak sehat atau toxic.

Berikut beberapa tanda yang dapat menunjukkan adanya pertemanan toxic:

Tidak peduli pada kehidupan kamu

Dalam hubungan yang sehat, komunikasi berlangsung dua arah. Sebaliknya, dalam pertemanan toxic, percakapan sering didominasi oleh satu pihak saja. Akibatnya, kamu bisa merasa tidak didengar dan kurang diperhatikan karena semua pembicaraan hanya berpusat pada mereka.

Sering tidak jujur

Kejujuran merupakan dasar penting dalam sebuah hubungan. Jika teman sering berbohong atau tidak terbuka, hal ini dapat merusak rasa percaya dan membuat kamu merasa tidak tenang karena sulit mengetahui kebenaran yang sebenarnya.



Tidak dapat diandalkan

Teman yang sehat biasanya bisa diandalkan saat dibutuhkan. Namun, pada hubungan yang tidak sehat, seseorang kerap mengingkari janji atau membatalkan rencana secara mendadak, sehingga membuat kamu merasa tidak dihargai.

Membuat lelah secara emosional

Interaksi dengan teman toxic sering kali justru menimbulkan perasaan negatif seperti sedih, cemas, atau marah. Alih-alih merasa nyaman, kamu malah merasa terkuras secara emosional setelah berinteraksi dengan mereka.

Tidak menghargai batasan pribadi

Dalam pertemanan yang sehat, batasan pribadi dihormati. Sebaliknya, pada hubungan toxic, batasan tersebut sering dilanggar sehingga kamu merasa tidak bebas menjadi diri sendiri atau harus selalu berhati-hati dalam bersikap.

Pada akhirnya, penting untuk mengevaluasi kembali setiap hubungan yang dimiliki. Tidak semua pertemanan harus dipertahankan, terutama jika lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan kebaikan bagi kesehatan mental.