Apa Itu Tinitus? Kenapa Telinga Berdenging Saat Sunyi?
Tata - Friday, 27 February 2026 | 04:55 PM


Ngiiiiing! Mengenal Tinitus, Si Tamu Tak Diundang yang Bukan Penyakit Tapi Bikin Overthinking
Pernah nggak sih, pas kamu lagi asyik-asyiknya rebahan di kamar yang sunyi senyap, tiba-tiba ada suara melengking tipis di telinga? Rasanya kayak ada nyamuk imajiner yang lagi konser orkestra tapi nggak kunjung pergi. Atau mungkin suaranya lebih mirip desis uap air, detak jam, atau gemuruh ombak yang entah datang dari mana. Kalau kamu pernah atau sering mengalaminya, selamat datang di klub penghuni dunia tinitus.
Banyak orang langsung panik pas telinganya berdenging. Ada yang mengira lagi disapa makhluk halus, ada yang takut kena stroke, sampai ada yang mikir ini pertanda bakal tuli permanen. Padahal, tinitus itu sebenarnya bukan penyakit. Ya, kamu nggak salah baca. Tinitus adalah sebuah gejala, semacam alarm dari tubuh yang bilang kalau ada sesuatu yang lagi nggak beres di sistem pendengaran atau saraf kita.
Bukan Penyakit, Tapi "Curhatan" Telinga
Secara medis, tinitus didefinisikan sebagai persepsi suara tanpa adanya sumber suara eksternal. Jadi, cuma kamu yang dengar, orang di sebelahmu nggak bakal dengar apa-apa meskipun dia nempel telinga ke kepalamu. Ini bukan fenomena mistis, melainkan masalah di jalur saraf pendengaran kita.
Kenapa saya bilang ini bukan penyakit? Karena tinitus itu mirip kayak demam. Demam bukan penyakitnya, tapi tanda kalau tubuhmu lagi perang lawan infeksi. Nah, denging di telinga ini juga sama. Dia cuma "utusan" yang membawa pesan kalau ada masalah lain yang mendasarinya. Bisa jadi karena kotoran telinga numpuk, efek samping obat, stres yang lagi muncak, atau memang karena faktor usia yang nggak bisa dibohongi.
Masalahnya, suara "nging" ini bisa bikin kualitas hidup terjun bebas. Bayangin aja, mau tidur tapi ada suara melengking di kepala. Mau fokus ngerjain tugas, eh si denging malah ikutan nimbrung. Alhasil, banyak orang jadi gampang marah, cemas, bahkan depresi cuma gara-gara suara yang sebenarnya nggak ada bentuknya ini.
Gara-Gara Konser dan Volume Maksimal
Kalau kita bicara soal penyebab, generasi zaman sekarang sebenarnya paling rawan kena tinitus. Coba jujur, siapa yang kalau dengerin lagu di Spotify atau nonton drakor pakai earphone volumenya sampai mentok? Atau kamu yang hobi banget berdiri paling depan pas nonton konser musik biar bisa lihat muka sang idola, tapi pulang-pulang telinga rasanya kayak kesumbat kapas?
Telinga manusia itu punya ribuan sel rambut halus yang fungsinya menangkap getaran suara. Kalau kita terus-menerus "menghajar" telinga dengan suara keras, sel-sel rambut ini bisa rusak atau bahkan mati. Nah, saat sel-sel ini rusak, mereka mulai mengirimkan sinyal listrik yang kacau ke otak. Otak yang bingung menerjemahkan sinyal acak ini akhirnya menciptakan suara denging tadi. Jadi, tinitus itu semacam "protes" dari telingamu yang sudah kecapekan.
Selain suara keras, gaya hidup yang berantakan juga bisa jadi pemicu. Kebanyakan ngopi atau merokok ternyata bisa mempersempit aliran darah ke organ dalam telinga. Hasilnya? Si suara "nging" makin betah nongkrong di kepala kita. Jadi, kalau kamu merasa telinga berdenging setelah begadang tiga malam berturut-turut sambil minum kopi bergelas-gelas, ya jangan heran.
Kenapa Ruangan Sepi Malah Jadi Musuh?
Satu hal yang paling ironis dari tinitus adalah musuh terbesarnya bukanlah kebisingan, melainkan kesunyian. Pas kita lagi sibuk di kantor yang ramai atau lagi nongkrong di kafe, tinitus biasanya nggak terlalu kedengaran karena tertutup suara lingkungan. Tapi begitu kita masuk ke kamar tidur yang sepi, tinitus bakal "teriak" sekeras-kerasnya.
Inilah yang sering bikin orang kena gangguan kecemasan. Saat dunia di luar diam, suara di dalam kepala justru jadi dominan. Di sinilah peran psikologis bermain. Semakin kita fokus ke suaranya, semakin otak kita menganggap suara itu penting. Akhirnya, tinitus jadi terdengar makin keras. Ini kayak kamu lagi berusaha nggak mikirin gajah merah, tapi yang ada di kepalamu malah cuma gajah merah terus-terusan.
Bisa Sembuh Nggak, Sih?
Pertanyaan ini paling sering ditanyain di forum-forum kesehatan. Jawabannya: tergantung penyebabnya. Kalau tinitusnya karena kotoran telinga yang menyumbat, ya tinggal dibersihin ke dokter THT, kelar urusannya. Kalau karena efek obat, ganti obatnya, biasanya tinitusnya hilang.
Tapi, kalau tinitus muncul karena kerusakan sel saraf atau faktor usia, jujur saja, sampai sekarang belum ada obat ajaib yang bisa menghilangkan suaranya 100% dalam sekejap. Eits, tapi jangan sedih dulu. Meski nggak selalu bisa "disembuhkan" dalam artian hilang total, tinitus bisa "dijinakkan".
Caranya? Ada yang namanya Tinnitus Retraining Therapy (TRT). Intinya adalah melatih otak supaya cuek sama suara itu. Anggap saja tinitus itu kayak suara kipas angin atau suara AC di kamar. Awalnya kerasa, tapi lama-lama otak kita bakal menganggap itu sebagai background noise yang nggak penting dan akhirnya kita nggak sadar kalau suara itu ada.
Selain itu, penggunaan white noise sangat membantu buat kamu yang susah tidur. Coba pasang suara hujan, suara ombak, atau suara hutan dari YouTube sebelum tidur. Suara-suara alam ini bakal membantu "menutupi" denging tinitus sehingga otakmu bisa lebih rileks dan nggak fokus ke suara "nging" yang menyebalkan itu.
Kesimpulan: Sayangi Telingamu Sebelum Terlambat
Tinitus mungkin bukan penyakit yang mematikan, tapi dia adalah pengingat yang sangat berisik tentang betapa berharganya pendengaran kita. Buat kamu yang sekarang masih sehat walafiat, kurangi deh kebiasaan dengerin musik pakai earphone dengan volume yang bikin orang sebelah bisa ikut nyanyi. Telinga kita nggak punya tombol reset atau suku cadang yang mudah diganti.
Dan buat kamu yang sudah terlanjur "berteman" dengan si suara denging ini, tenang saja. Kamu nggak sendirian. Banyak musisi dunia sampai tokoh hebat yang juga punya tinitus tapi tetap bisa produktif. Kuncinya adalah jangan stres berlebihan, karena semakin kamu stres, suaranya bakal makin kencang. Berdamailah dengan suaranya, perbaiki gaya hidup, dan jangan ragu buat konsultasi ke dokter THT profesional kalau memang sudah terasa sangat mengganggu.
Akhir kata, telinga itu jendela suara dunia. Jangan biarkan dia rusak cuma gara-gara ego kita yang pengen dengerin lagu kencang-kencang demi gaya. Sehat selalu ya, telingamu dan kewarasanmu!
Next News

Misteri "Gunung Baju" di Kamar: Apa Kata Psikologi tentang Kebiasaan Menumpuk Pakaian di Kursi?
in 5 hours

Manfaat Chia Seed untuk Kesehatan dan Cara Mengonsumsinya
in 5 hours

Kenapa Ada Orang Tidur Ngorok Padahal Tidak Gemuk?
7 hours ago

Kenapa Tinggi Badan Berhenti Bertambah?
7 hours ago

Perlukah Memperhatikan Kadar pH dalam Air Minum?
7 hours ago

Bukan Sekadar Hiasan, Ini Rahasia Harum Daun Pandan
in 4 hours

Busui Ingin Puasa? Perhatikan Hal Ini Agar Tubuh Tetap Fit
in 3 hours

Lebih Dahsyat Dari Kopi Begini Kekuatan Musik Bagi Otak
in 3 hours

Si Daun Emas yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi: Sebuah Cerita Tentang Tembakau
in 40 minutes

Daun Sirih China, Bukan Sembarang Rumput Liar
in 35 minutes





