Senin, 4 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

10 Jurusan yang Paling Sering Bikin Menyesal Pasca Wisuda

Laila - Monday, 04 May 2026 | 05:40 PM

Background
 10 Jurusan yang Paling Sering Bikin Menyesal Pasca Wisuda

Satu Toga, Seribu Dilema

Momen wisuda itu ibarat puncak gunung. Kita merasa sudah menaklukkan dunia setelah bertahun-tahun bergulat dengan skripsi, revisi yang nggak kelar-kelar, sampai dosen pembimbing yang hobinya menghilang tanpa kabar layaknya gebetan yang ghosting. Tapi, begitu toga dilepas dan ijazah sudah di tangan, tiba-tiba realitas menghantam keras-keras. Ternyata, dunia kerja nggak seindah postingan LinkedIn para influencer.

Banyak dari kita yang akhirnya sadar bahwa gelar yang kita perjuangkan mati-matian itu nggak otomatis jadi tiket emas buat dapet gaji dua digit. Malah, menurut survei global dari ZipRecruiter, ada beberapa jurusan yang tingkat penyesalannya cukup tinggi di kalangan alumninya. Bukan karena ilmunya nggak berguna, tapi lebih ke arah "ekspektasi vs realita" yang seringkali jomplang banget. Mari kita bahas secara santai, siapa tahu kamu salah satunya, atau justru lagi ancang-ancang mau masuk ke sana.

1. Jurnalistik dan Ilmu Komunikasi

Di urutan pertama, ada teman-teman dari Jurnalistik. Bayangannya sih bakal jadi jurnalis investigasi keren ala Najwa Shihab atau keliling dunia liputan perang. Realitanya? Banyak yang akhirnya terjebak jadi penulis konten clickbait demi mengejar traffic. Gaji yang relatif kecil dibandingkan jam kerja yang gila-gilaan bikin banyak lulusannya merasa "boncos". Belum lagi tekanan industri media yang makin hari makin nggak menentu. Banyak yang akhirnya banting setir jadi admin sosmed atau PR demi dompet yang lebih tebal.

2. Sosiologi

Anak Sosiologi itu pinter banget kalau disuruh bedah struktur masyarakat atau bahas teori Karl Marx sampai Max Weber. Tapi masalahnya, di luar sana jarang ada lowongan kerja yang judulnya "Dibutuhkan Sosiolog". Akhirnya, banyak lulusannya yang merasa bingung mau kerja apa. Mereka seringkali berakhir di posisi administratif atau HRD yang sebenarnya bisa diisi oleh jurusan apa saja. Perasaan bahwa ilmu mereka terlalu abstrak untuk dunia praktis inilah yang sering memicu rasa sesal.

3. Seni (Murni maupun Desain)

Ini adalah jurusan yang paling sering berantem sama orang tua pas awal masuk. "Mau makan apa nanti kalau kuliah seni?" adalah pertanyaan klasik. Dan sedihnya, kadang pertanyaan itu ada benarnya. Menjadi seniman idealis itu mahal harganya. Banyak lulusan seni yang akhirnya harus "menjual diri" ke industri kreatif yang penuh dengan revisi tak berujung dari klien yang seleranya payah. Kelelahan kreatif dan bayaran yang seringkali cuma seharga "ucapan terima kasih" atau "eksposur" bikin banyak seniman muda gigit jari.



4. Ilmu Komunikasi (Secara Umum)

Lho, bukannya komunikasi itu penting? Iya, penting banget. Tapi masalahnya, karena jurusan ini terlalu umum, persaingannya jadi gila-gilaan. Anak teknik pun sekarang jago komunikasi. Anak ekonomi bisa jadi public speaker. Lulusan komunikasi sering merasa ijazah mereka nggak punya "skill spesifik" yang bikin mereka punya nilai tawar tinggi di mata HRD. Akhirnya, mereka harus kerja ekstra keras buat ambil sertifikasi ini-itu biar nggak kalah saing.

5. Manajemen Perhotelan dan Pariwisata

Awalnya kelihatan seru: belajar di gedung megah, pakai seragam rapi, dan belajar cara melayani orang kaya. Tapi begitu masuk industri, realitanya adalah shift kerja yang panjang, libur di saat orang lain kerja, dan kerja di saat orang lain libur (seperti Lebaran atau Tahun Baru). Apalagi sejak pandemi kemarin, sektor ini terpukul banget. Banyak yang merasa sekolah mahal-mahal tapi gaji awalnya setara UMR dengan beban kerja fisik yang luar biasa capek.

6. Ilmu Politik

Kalau kamu nggak punya koneksi ke partai politik atau bukan anak pejabat, ijazah Ilmu Politik seringkali cuma jadi pajangan di dinding. Banyak yang masuk ke sini karena pengen mengubah dunia, tapi akhirnya cuma jadi admin di kantor kecamatan atau sales asuransi. Dunia politik praktis itu keras dan penuh intrik, dan seringkali ilmu teori di kelas nggak relate sama sekali dengan apa yang terjadi di lapangan.

7. Biologi

Anak Biologi itu keren, mereka tahu cara kerja sel sampai ekosistem. Tapi di Indonesia, lapangan kerja untuk peneliti itu masih minim banget. Kalau nggak jadi guru atau dosen, pilihannya nggak banyak. Banyak lulusan Biologi yang akhirnya kerja di bank atau jadi sales alat-alat laboratorium. Rasa sesal muncul ketika mereka sadar bahwa untuk benar-benar bisa berkarier sebagai ilmuwan, mereka harus sekolah lagi sampai jenjang S3 yang biayanya nggak main-main.

8. Sastra (Inggris, Indonesia, atau Asing Lainnya)

Sering banget dianggap jurusan santai yang cuma baca novel. Padahal mah, analisisnya dalam banget. Masalahnya tetap sama: monetisasi. Banyak lulusan sastra yang kaget kalau dunia nggak butuh-butuh amat sama orang yang bisa bedah puisi Shakespeare. Kalau nggak jadi penerjemah (yang sekarang mulai terancam AI) atau guru bahasa, mereka sering terdampar di pekerjaan yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan literatur.



9. Marketing/Pemasaran

Jurusan ini menjanjikan dinamika yang seru. Tapi di dunia nyata, marketing itu soal target, target, dan target. Tekanannya tinggi banget. Banyak yang merasa salah jurusan karena ternyata mereka nggak suka dikejar-kejar angka atau harus selalu tampil ekstrovert setiap hari. Turnover atau tingkat keluar-masuk karyawan di bidang ini sangat tinggi karena banyak yang nggak kuat mental.

10. Psikologi (Tanpa Gelar Profesi)

Banyak yang ambil Psikologi karena pengen tahu cara baca pikiran orang atau pengen menyembuhkan trauma diri sendiri. Tapi begitu lulus S1, mereka baru sadar kalau ijazah S1 Psikologi itu "tanggung". Belum bisa jadi psikolog beneran kalau belum ambil S2 Profesi. Akhirnya, banyak yang tertahan jadi staf HRD atau admin, padahal ekspektasi awalnya bisa buka praktik sendiri. Biaya kuliah lanjut yang mahal sering bikin lulusan S1-nya ngerasa terjebak.

Pada akhirnya, apakah menyesal itu salah? Nggak juga. Hidup itu proses belajar yang nggak pernah selesai. Banyak orang yang sukses justru di bidang yang jauh banget dari jurusannya. Ijazah mungkin cuma selembar kertas, tapi mentalitas "tahan banting" yang kamu bentuk selama kuliah itulah modal utamanya. Jadi buat kamu yang ngerasa salah jurusan: tenang, kamu nggak sendirian. Dunia ini luas, dan pintu rezeki nggak cuma lewat satu ijazah doang. Tetap semangat, ya!