Streaming Online

Mengenal Hiu Aneh Berwajah Babi yang Langka dan Terancam Punah

Angular roughshark (Oxynotus centrina) atau hiu berwajah babi yang ditemukan di perairan Pulau Elba, Italia. Hiu laut dalam ini adalah spesies langka yang masuk Daftar Merah IUCN sebagai spesies terancam punah.(@isoladelbaapp/Newsflash via MIRROR)

Belakangan media sosial ramai foto hiu dengan wajah mirip babi yang ditemukan di perairan pulau Elba, Italia. Hiu aneh ini ternyata adalah salah satu spesies langka dan terancam punah. Para pelaut angkatan laut melihat seekor hiu mengambang di perairan Darsena Medicea di kota Portoferraio.

Saat menarik hewan laut tersebut, mereka kaget dengan penampakan wujud hiu yang sangat aneh. Seperti diberitakan Mirror, Sabtu (11/9/2021), para pelaut merasa heran melihat wajah hiu yang mirip babi. Setelah diamati, ternyata hiu berwajah babi tersebut adalah spesies hiu yang dikenal sebagai Angular Roughshark. Rupa aneh pada hiu ini membuatnya dikenal sebagai hiu berwajah babi. Angular Roughshark adalah spesies hiu yang tinggal di 2.300 kaki di bawah permukaan laut.

Hiu dengan nama latin, Oxynotus centrina, yang diketahui sangat langka. Hiu aneh berwajah mirip babi ini pun masuk dalam daftar merah IUCN sebagai spesies hewan terancam punah. Penemuan Angular Roughshark tersebut telah terjadi tiga pekan lalu. Namun, foto-fotonya yang beredar di media sosial, membuat hiu aneh ini akhi-akhir ini viral di ranah maya.

Hiu penghuni laut

Dalam Dikutip dari laman IUCN, angular roughshark adalah hiu laut dalam berukuran kecil, dengan panjang sekitar 150 cm. Hiu mirip babi ini, persebarannya di wilayah perairan Timur Laut dan Samudra Atlantik Timur, serta di Laut Mediterania.

Kendati hiu berwajah babi ini viral setelah ditemukan para pelaut saat melihatnya mengambang di permukaan laut, namun ternyata Angular Roughshark adalah spesies hiu laut dalam. Hiu langka ini hidup di kedalaman 35 hingga 805 meter di bawah permukaan laut. Maka, tak heran, bila hiu ini dianggap aneh, sebab predator laut dalam berwajah babi ini sangat jarang sekali terlihat.

Namun, hiu ini cukup sering tertangkap secara tak sengaja oleh alat penangkap ikan yang umumnya menargetkan ikan dan udang di kawasan lepas pantai.

Angular Roughshark terancam punah

Angular Roughshark terdaftar sebagai spesies hiu perairan dalam yang tercatat dalam peraturan Uni Eropa, dan berbagai tindakan pengelolaan berlaku untuk hiu perairan dalam tersebut, termasuk larangan penangkapan ikan yang ditargetkan. Menurut deskripsi yang dijelaskan IUCN, ada tumpang tindih antara persebaran hiu dengan tekanan penangkapan ikan yang intensif, yang diduga telah menyebabkan adanya laporan penurunan hiu laut dalam di sebagian wilayah penjelajahannya.

Hal ini pun juga diduga menjadi faktor penyebab kepunahan lokal hiu laut dalam tersebut di perairan Mediterania. Data tren mengenai populasi angular roughshark tidak tersedia secara spesifik. Kendati data spesifik spesies hiu berwajah babi ini sangat kurang, namun ada sejumlah kumpulan data yang relevan terkait spesies hiu aneh ini.

Angular Roughshark adalah salah satu dari beberapa spesies chondrichthyan yang secara historis dilaporkan sebagai spesies umum di tempat penangkapan ikan pukat di lepas Kepulauan Balearic dan Laut Adriatik. Namun, spesies predator laut dalam ini, seperti ditulis IUCN, tidak lagi terdeteksi dalam survei ilmiah dan hampir menghilang dari pendaratan komersial.

Laporan ini dipublikasikan para peneliti tahun 2016 dan 2020. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2011, menunjukkan penurunan besar populasi Angular Roughshark hingga lebih dari 90 persen, yang telah didokumentasikan di Laut Mediterania antara tahun 1940/50-an hingga tahun 1990-an. Penurunan populasi hiu berwajah babi ini juga tampak di perairan Atlantik Timur Laut.

Secara keseluruhan, Angular Roughshark atau hiu berwajah mirip babi ini diperkirakan telah mengalami pengurangan populasi mencapai 50–79 persen. Penurunan populasi hiu berwajah babi yang langka ini terjadi setidaknya selama tiga generasi terakhir, atau selama 60 tahun, berdasarkan tingkat eksploitasi yang sebenarnya, dan dinilai sebagai A2d terancam punah.

sumber : kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *