Udang dan Kolesterol Sering Dikaitkan, Apa yang Sebenarnya Perlu Diketahui?
Tata - Friday, 02 October 2026 | 09:34 PM


Udang merupakan salah satu makanan laut yang cukup banyak dikonsumsi karena rasanya lezat dan dapat diolah menjadi berbagai hidangan. Namun, makanan ini sering dikaitkan dengan kolesterol sehingga sebagian orang memilih membatasi atau bahkan menghindarinya. Anggapan tersebut sebenarnya perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
Udang memang mengandung kolesterol makanan. Kolesterol makanan merupakan kolesterol yang berasal dari makanan hewani, sedangkan kolesterol darah merupakan zat yang beredar di dalam tubuh. Keduanya tidak sepenuhnya sama. American Heart Association menjelaskan bahwa perhatian terhadap kesehatan jantung saat ini lebih banyak diarahkan pada pola makan secara keseluruhan, terutama asupan lemak jenuh dan jenis lemak yang dikonsumsi.
Karena mengandung kolesterol, udang memang berbeda dengan sebagian besar makanan nabati yang tidak mengandung kolesterol. Namun, kandungan kolesterol tersebut tidak otomatis berarti udang akan menyebabkan kadar kolesterol darah seseorang meningkat secara signifikan.
Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa jenis lemak dalam makanan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kadar kolesterol darah dibandingkan jumlah kolesterol yang dikonsumsi dari makanan. Pengaruh kolesterol makanan terhadap kadar kolesterol darah juga dapat berbeda pada setiap orang.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan lemak jenuh. Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar LDL atau kolesterol yang sering disebut sebagai kolesterol "jahat" dalam darah. Karena itu, cara makanan disiapkan dapat menjadi faktor penting ketika seseorang ingin menjaga kadar kolesterol.
Udang yang dimasak dengan cara sederhana berbeda dengan udang yang digoreng menggunakan banyak minyak atau disajikan bersama saus yang tinggi lemak jenuh. American Heart Association menyebut makanan laut seperti udang yang tidak digoreng relatif rendah lemak jenuh dan dapat menjadi alternatif dari beberapa jenis daging atau unggas yang lebih tinggi lemak jenuh.
Karena itu, masalahnya tidak selalu terletak pada udangnya saja. Cara pengolahan dan makanan pendamping juga perlu diperhatikan. Udang yang direbus, dikukus, atau dimasak dengan sedikit minyak dapat menjadi pilihan yang berbeda secara nutrisi dibandingkan udang yang digoreng tepung atau dimasak dengan banyak mentega.
Porsi juga tetap penting. Meskipun udang relatif rendah lemak jenuh, mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan atau sebagai bagian dari pola makan yang tinggi lemak jenuh tetap dapat membuat kualitas pola makan secara keseluruhan kurang baik.
Bagi orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi, memperhatikan seluruh pola makan biasanya lebih bermanfaat daripada hanya berfokus pada satu jenis makanan. Sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, sumber protein yang lebih rendah lemak jenuh, serta lemak tidak jenuh dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan jantung.
Serat juga memiliki peran dalam menjaga kadar kolesterol. Serat larut dapat membantu menurunkan kolesterol darah melalui proses di saluran pencernaan. Karena itu, makanan laut seperti udang sebaiknya tetap dikombinasikan dengan sumber serat, seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
Bagi sebagian orang, pembatasan makanan tertentu mungkin diperlukan berdasarkan kondisi kesehatan masing-masing. Orang yang sudah memiliki kadar kolesterol tinggi, penyakit jantung, diabetes, atau faktor risiko lainnya sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan mengenai pola makan dan jumlah makanan yang sesuai.
Pemeriksaan kadar kolesterol juga lebih dapat memberikan gambaran mengenai kondisi seseorang dibandingkan hanya menilai apakah suatu makanan mengandung kolesterol atau tidak. Tes darah dapat menunjukkan kadar LDL, HDL, dan komponen lain yang berkaitan dengan kesehatan jantung.
Dengan demikian, anggapan bahwa udang harus selalu dihindari hanya karena mengandung kolesterol tidak sepenuhnya menggambarkan persoalan. Udang memang mengandung kolesterol makanan, tetapi juga relatif rendah lemak jenuh ketika disiapkan tanpa banyak tambahan lemak. Yang tidak kalah penting adalah porsi, cara memasak, makanan pendamping, dan pola makan secara keseluruhan.
Next News

Makan Nasi dan Lauk Pakai Tangan, Apa yang Membuat Sensasinya Berbeda?
an hour ago

Terlalu Takut Bertanya Saat Kuliah, Apa yang Membuat Mahasiswa Menahannya?
an hour ago

Inhaler Dosis Terukur dan Jenis Lainnya, Apa Perbedaannya?
an hour ago

Kue Pie Sering Retak Saat Dipanggang, Apa Penyebabnya?
an hour ago

Memakai Sepatu Seharian Membuat Kaki Lembap, Apa Dampaknya?
an hour ago

Gatal Muncul Saat Cuaca Dingin, Apa yang Membuat Kulit Lebih Sensitif?
an hour ago

Kenapa Deadline Bisa Membuat Kita Tiba-Tiba Lebih Produktif?
7 hours ago

Bekerja Sambil Mendengarkan Musik, Apakah Bisa Membantu Konsentrasi?
7 hours ago

Sering Menatap Monitor Berjam-jam, Apa Dampaknya bagi Mata?
7 hours ago

Kebiasaan Meninggalkan Charger Terpasang, Apakah Benar Bisa Membuat Listrik Boros?
8 hours ago





