Tips Memilih Sepatu Lari: Pahami Kakimu
Liaa - Monday, 02 March 2026 | 04:01 AM


Tren lari memang sedang naik daun.
Pagi-pagi taman kota ramai, sepatu warna-warni berseliweran, smartwatch menyala, dan orang-orang berburu pace terbaiknya.
Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sering diremehkan: sepatu yang tepat.
Padahal, sepatu adalah "rumah" bagi kaki selama kita berlari.
Menurut para ahli ortopedi dari American Orthopaedic Foot & Ankle Society, sepatu yang tidak sesuai bisa meningkatkan risiko cedera — mulai dari nyeri lutut, betis tegang, sampai plantar fasciitis yang bikin langkah terasa seperti menginjak paku.
Lalu bagaimana memilih yang tepat?
1.Kenali Cara Kakimu Mendarat
Setiap orang punya pola pijakan berbeda. Ada yang kakinya sedikit masuk ke dalam saat menapak (pronasi normal), ada yang terlalu masuk (overpronation), dan ada yang justru condong keluar (supinasi).
Kalau kamu sering merasa bagian dalam sepatu cepat aus, bisa jadi kamu overpronation dan butuh sepatu dengan stabilitas lebih. Sebaliknya, kalau ausnya di sisi luar, mungkin kakimu butuh bantalan ekstra.
Beberapa toko olahraga besar menyediakan pengecekan sederhana untuk melihat pola langkahmu.
2.Jangan Terpaku pada Nomor Ukuran
Ukuran sepatu lari sering kali berbeda dari sepatu harian. Saat berlari, kaki sedikit membengkak karena peningkatan aliran darah. Itu sebabnya idealnya ada jarak sekitar satu jari di depan ujung kaki.
Kalau terlalu pas, kuku bisa tertekan dan memicu cedera kecil yang menyiksa saat jarak tempuh makin jauh.
3.Bantalan: Empuk Boleh, Tapi Jangan "Tenggelam"
Banyak orang mengira semakin empuk semakin baik. Padahal tidak selalu begitu. Bantalan yang terlalu lembut bisa membuat kaki kehilangan stabilitas.
Yang dicari adalah rasa nyaman sekaligus responsif — ketika menapak terasa lembut, tapi saat mendorong ke depan tetap mantap.
4.Sesuaikan dengan Tujuanmu
Kalau hanya untuk jogging santai 3–5 km, sepatu kategori netral biasanya cukup.
Kalau kamu mulai rutin latihan jarak jauh atau punya riwayat nyeri lutut, sepatu dengan stabilitas tambahan bisa lebih aman.
Dan untuk trail atau jalur tanah? Solnya harus lebih "menggigit" agar tidak mudah tergelincir.
5 Jangan Lupakan Sirkulasi Udara
Bahan mesh yang breathable membantu kaki tetap kering. Kaki lembap terlalu lama bisa memicu lecet atau jamur. Hal kecil, tapi dampaknya besar kalau kamu rutin berlari.
6.Coba Pakai
Rasakan berdiri dan berjalan. Kalau memungkinkan, lari kecil sebentar.
Kalau sejak awal sudah terasa janggal, biasanya tidak akan membaik.
Sepatu lari yang baik itu harus tidak terasa membebani, tapi selalu bisa menopang.
Mengikuti tren lari itu bagus. Tapi tubuhmu lebih penting daripada sekadar foto finish di Instagram. Sepatu yang tepat bukan hanya soal performa, tapi tentang menjaga kaki, lutut, dan punggung tetap sehat dalam jangka panjang.
Karena lari bukan tentang cepat sesaat, tapi konsisten bertahun-tahun.
Next News

Kiat Hidup Cerdas di Era Digital
16 hours ago

Mengurangi Makanan Instan: Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan di Tengah Hidup Serba Cepat
4 hours ago

Tren Buku Self-Improvement: Benar-Benar Ingin Berubah atau Sekadar Ikut Tren?
4 hours ago

Tren Jus dan Smoothie Sehat: Gaya Hidup Baru atau Sekadar Ikut FOMO?
4 hours ago

Seni Menikmati Hidup Tanpa Terburu-buru: Ketika Hidup Sederhana Justru Terasa Mewah
4 hours ago

Di Balik Kata "Sibuk": Kenapa Kita Selalu Merasa Kekurangan Waktu?
4 hours ago

Di Balik Mager dan Jajan Sembarangan: Kenapa Kebersihan Bukan Sekadar Soal Penampilan
4 hours ago

Dari Boba ke Beras Kencur: Ketika Jamu Berubah Jadi Lifestyle Anak Muda
4 hours ago

Dapur Tanpa Sampah: Cara Mudah Mengurangi Limbah Rumah Tangga
17 hours ago

12 Maret, Hari Tidur Siang Sedunia
17 hours ago





