Selasa, 23 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tan Malaka: Bapak Republik Indonesia yang Jejak Perjuangannya Pernah Terlupakan

RAU - Tuesday, 02 June 2026 | 09:08 AM

Background
Tan Malaka: Bapak Republik Indonesia yang Jejak Perjuangannya Pernah Terlupakan

Mengenal Tan Malaka, Tokoh Visioner dalam Sejarah Indonesia

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama Tan Malaka menempati posisi yang unik. Ia bukan hanya seorang aktivis politik, tetapi juga seorang pendidik dan pemikir yang memiliki visi jauh melampaui zamannya.

Bahkan sebelum Indonesia merdeka, Tan Malaka telah memikirkan bentuk negara yang paling sesuai untuk bangsa yang terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama. Ia meyakini bahwa sistem republik merupakan pilihan terbaik untuk menjaga persatuan dan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh rakyat.

Karena gagasan tersebut, Tan Malaka kemudian dikenal sebagai "Bapak Republik Indonesia".

Biografi Singkat Tan Malaka

Tan Malaka lahir di Sumatra Barat dengan nama asli Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki minat besar terhadap pendidikan.

Pendidikan formalnya dimulai di sekolah-sekolah pribumi sebelum melanjutkan ke Kweekschool atau Sekolah Guru di Bukittinggi, sebuah lembaga pendidikan bergengsi pada masa kolonial Belanda.



Kemampuan akademiknya yang menonjol menarik perhatian salah satu gurunya, G.H. Horensma. Berkat dukungan tersebut, Tan Malaka memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda sebagai calon guru.

Selama berada di Eropa, ia mulai mengenal berbagai pemikiran modern seperti nasionalisme, sosialisme, liberalisme, dan komunisme. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap penjajahan dan mendorongnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Awal Perjuangan Melalui Dunia Pendidikan

Setelah kembali ke tanah air, Tan Malaka bekerja sebagai guru di wilayah perkebunan Sumatra Timur.

Di sana, ia menyaksikan langsung kehidupan para buruh yang hidup dalam kondisi sulit. Banyak pekerja mengalami eksploitasi akibat rendahnya pendidikan dan keterampilan yang mereka miliki.

Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan merupakan alat penting untuk membebaskan rakyat dari penindasan.



Ketika kemudian pindah ke Jawa, khususnya Semarang, Tan Malaka mendirikan sekolah bagi anak-anak dari kalangan Sarekat Islam. Sekolah-sekolah tersebut berkembang pesat dan berhasil menjangkau ribuan murid.

Bagi Tan Malaka, pendidikan bukan sekadar proses belajar mengajar, melainkan sarana membangun kesadaran nasional dan memperkuat semangat perjuangan rakyat.

Aktivitas Politik dan Masa Pengasingan

Selain aktif di bidang pendidikan, Tan Malaka juga terlibat dalam pergerakan politik anti-kolonial.

Ia bergabung dengan Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), organisasi yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).

Aktivitas politiknya membuat pemerintah kolonial Belanda menganggapnya berbahaya. Pada tahun 1922, ia ditangkap dan diasingkan ke Belanda.



Namun pengasingan tidak menghentikan perjuangannya. Selama bertahun-tahun, Tan Malaka berpindah dari satu negara ke negara lain, termasuk Tiongkok, Rusia, Filipina, Jepang, dan Singapura.

Selama masa pelarian tersebut, ia terus membangun jaringan politik internasional sekaligus menyebarkan gagasan kemerdekaan Indonesia.

Lahirnya Gagasan Republik Indonesia

Salah satu kontribusi terbesar Tan Malaka adalah gagasannya mengenai Republik Indonesia.

Saat berada di luar negeri, ia menulis buku berjudul Naar de Republiek Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1925.

Dalam buku tersebut, Tan Malaka menjelaskan konsep negara Indonesia merdeka dengan bentuk pemerintahan republik. Gagasan ini muncul jauh sebelum Indonesia benar-benar memperoleh kemerdekaan.



Karya tersebut menjadi inspirasi bagi banyak pemuda dan aktivis pergerakan nasional yang sedang memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda.

Karena pemikirannya yang visioner itulah, Tan Malaka kemudian mendapat julukan sebagai Bapak Republik Indonesia.

Karya-Karya Penting Tan Malaka

Selain aktif dalam pergerakan politik, Tan Malaka juga dikenal sebagai penulis produktif.

Beberapa karya pentingnya antara lain:

1. Naar de Republiek Indonesia



Buku yang memperkenalkan konsep Republik Indonesia sebagai bentuk negara yang ideal bagi bangsa Indonesia.

2. Massa Actie

Membahas strategi perjuangan rakyat melalui gerakan massa dalam melawan kolonialisme.

3. Madilog

Singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Buku ini mengajak masyarakat Indonesia untuk berpikir rasional, kritis, dan ilmiah.



4. Dari Penjara ke Penjara

Karya autobiografi yang menceritakan perjalanan hidup serta pengalaman politik Tan Malaka.

5. Gerpolek

Buku yang membahas konsep gerilya, politik, dan ekonomi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hingga kini, karya-karya tersebut masih dipelajari oleh akademisi, peneliti, dan masyarakat yang tertarik pada sejarah pemikiran Indonesia.



Peran Tan Malaka Setelah Kemerdekaan Indonesia

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Tan Malaka kembali muncul ke hadapan publik.

Ia mendukung penuh kemerdekaan Indonesia dan berupaya menggerakkan massa untuk menunjukkan bahwa rakyat berada di belakang pemerintahan Republik Indonesia.

Salah satu peristiwa penting yang terkait dengannya adalah Rapat Raksasa Ikada pada September 1945. Aksi tersebut menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia mendukung kemerdekaan yang baru diproklamasikan.

Meskipun sempat ditawari jabatan dalam pemerintahan, Tan Malaka memilih tetap bergerak bersama rakyat dan mendukung perjuangan dari luar struktur pemerintahan.

Perbedaan Pandangan dengan Pemerintah

Dalam masa revolusi, Tan Malaka memiliki pandangan berbeda dengan pemerintah terkait strategi menghadapi Belanda.



Jika pemerintah lebih memilih jalur diplomasi, Tan Malaka cenderung mendukung perlawanan yang lebih tegas dan revolusioner.

Perbedaan pandangan tersebut membuatnya berada di posisi oposisi terhadap kebijakan pemerintah saat itu.

Bersama sejumlah tokoh dan organisasi, ia membentuk Persatuan Perjuangan yang menuntut pengakuan kemerdekaan Indonesia secara penuh tanpa kompromi dengan Belanda.

Situasi politik yang memanas akhirnya menyebabkan Tan Malaka beberapa kali ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Indonesia sendiri.

Akhir Hayat Tan Malaka

Pada akhir tahun 1948, Tan Malaka kembali bergerilya di wilayah Jawa Timur.



Dalam situasi politik dan militer yang penuh ketegangan, ia akhirnya ditangkap oleh pasukan Republik Indonesia.

Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi di daerah Selopanggung, Kediri, Jawa Timur.

Keberadaan makamnya bahkan sempat tidak diketahui secara luas selama bertahun-tahun.

Meski demikian, jasa dan pemikirannya akhirnya mendapat pengakuan resmi ketika Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1963.

Warisan Pemikiran Tan Malaka

Tan Malaka bukan hanya seorang pejuang kemerdekaan, tetapi juga seorang intelektual yang memiliki gagasan besar tentang masa depan Indonesia.



Ia memperjuangkan pendidikan, kesadaran politik, kemandirian bangsa, serta pentingnya berpikir kritis dalam membangun negara.

Meskipun pernah mengalami pengasingan, penjara, hingga kematian yang lama tidak diketahui publik, pemikiran Tan Malaka tetap hidup melalui karya-karyanya.

Hingga saat ini, namanya terus dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Tan Malaka merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Indonesia. Sebagai pelopor gagasan Republik Indonesia, pendidik, penulis, dan pejuang kemerdekaan, ia memberikan kontribusi besar terhadap lahirnya bangsa Indonesia modern.

Perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan menunjukkan dedikasi luar biasa terhadap cita-cita kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, mempelajari sosok Tan Malaka tidak hanya membantu memahami sejarah Indonesia, tetapi juga memberi pelajaran tentang keberanian, idealisme, dan kecintaan terhadap tanah air.