Kamis, 26 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Sering Basah Kuyup Sendirian? Kenali Penyebab Keringat Berlebih

Liaa - Thursday, 26 February 2026 | 06:05 AM

Background
Sering Basah Kuyup Sendirian? Kenali Penyebab Keringat Berlebih

Misteri Si Paling Basah: Kenapa Sih Ada Orang yang Keringatnya Kayak Keran Bocor?

Pernah nggak sih kamu lagi nongkrong asyik di kafe yang AC-nya sudah disetel suhu kutub utara, tapi teman di sebelahmu malah sibuk ngelap jidat? Atau jangan-jangan, kamu sendiri adalah orangnya? Tipe orang yang kalau jalan kaki lima menit dari parkiran ke lobi mal saja sudah basah kuyup seolah-olah baru habis maraton keliling Gelora Bung Karno. Sementara itu, teman-temanmu yang lain tetap tampil fresh, wangi, dan kering kerontang seolah mereka punya lapisan pelindung anti-air di kulitnya.

Kondisi keringat berlebih ini emang sering bikin minder. Rasanya kayak membawa beban rahasia di balik baju. Mau salaman ragu karena telapak tangan basah, mau pakai baju warna abu-abu takut muncul "peta dunia" di ketiak, sampai mau pegang HP pun layarnya sering nggak responsif gara-gara jempol licin. Tapi santai saja, kamu nggak sendirian. Fenomena "si paling basah" ini sebenarnya punya penjelasan logis, baik dari sisi biologis maupun gaya hidup yang kadang memang agak ajaib.

Bukan Sekadar Gerah, Ini Namanya Hiperhidrosis

Secara medis, kondisi keringat yang keluar ugal-ugalan ini disebut dengan hiperhidrosis. Istilahnya memang terdengar berat, kayak nama jurus di film superhero, tapi intinya adalah kelenjar keringat kamu itu sifatnya "overachiever". Mereka bekerja terlalu keras melebihi apa yang dibutuhkan tubuh untuk mendinginkan suhu. Normalnya, keringat itu keluar kalau kita kepanasan, habis olahraga, atau lagi demam. Tapi buat para pejuang hiperhidrosis, lagi diem melamun di ruang ber-AC pun, keringat bisa tetap mengucur deras.

Ada dua jenis utama di sini. Pertama, Hiperhidrosis Primer. Ini biasanya faktor keturunan atau emang "setelan pabrik" dari lahir. Saraf yang bertugas ngasih sinyal ke kelenjar keringat itu kayak lagi korslet, jadi mereka kirim sinyal terus-terusan tanpa alasan yang jelas. Biasanya area yang kena itu spesifik: telapak tangan, telapak kaki, atau ketiak. Jadi kalau orang tuamu ada yang gampang keringatan, ya jangan kaget kalau kamu mewarisi bakat "basah" yang sama.

Kedua, Hiperhidrosis Sekunder. Nah, kalau yang ini biasanya karena ada "tamu tak diundang" di dalam tubuh. Bisa karena kondisi medis seperti masalah tiroid, diabetes, atau bahkan efek samping obat-obatan tertentu. Kalau kamu merasa dulu keringatnya biasa saja tapi tiba-tiba sekarang jadi kayak air terjun, mungkin ini saatnya buat cek kesehatan ke dokter, siapa tahu tubuhmu lagi kasih sinyal kalau ada yang nggak beres di dalam sana.



Vibes Cemas yang Bikin Banjir Lokal

Selain faktor biologis, faktor psikologis itu perannya gede banget. Kamu tahu nggak rasanya mau presentasi atau ketemu gebetan terus tiba-tiba tangan jadi dingin tapi basah? Itu adalah reaksi fight or flight yang salah alamat. Bagi sebagian orang, rasa cemas sedikit saja sudah cukup untuk memicu kelenjar keringat buat "open house".

Masalahnya, ini sering jadi lingkaran setan yang nggak ada habisnya. Kamu cemas, lalu kamu keringatan. Karena kamu sadar kamu keringatan dan takut orang lain lihat, kamu jadi tambah cemas. Akhirnya? Keringatnya makin deras. Begitu terus sampai kamu rasanya pengen menghilang ditelan bumi saja. Kadang, pikiran kita itu lebih jago bikin basah daripada matahari siang bolong di Jakarta.

Makanan Pedas dan Gaya Hidup Si Tukang Keringat

Jangan lupakan juga peran pola makan. Indonesia itu surganya makanan pedas. Sambal korek, seblak level setan, atau bakso mercon memang enak banget, tapi buat si pemilik keringat berlebih, makanan ini adalah musuh dalam selimut. Kandungan capsaicin dalam cabai itu menipu otak kita. Otak mengira suhu tubuh lagi naik drastis, jadi dia langsung memerintahkan semua kelenjar keringat buat kerja bakti mendinginkan suasana.

Selain pedas, minuman berkafein kayak kopi yang lagi jadi gaya hidup anak senja juga punya andil. Kafein itu stimulan yang merangsang sistem saraf pusat. Kalau sarafnya terangsang, kelenjar keringat juga ikut bangun. Jadi, jangan heran kalau habis minum es kopi susu literan, ketiakmu jadi lebih aktif dari biasanya. Belum lagi kalau kamu tipe yang suka pakai baju bahan poliester atau sintetis yang nggak menyerap keringat. Itu mah namanya nyari perkara, karena keringat nggak bisa menguap dan malah terjebak di kulit, bikin suasana makin gerah dan bau badan jadi lebih menantang.

Berteman dengan Keringat: Tips Biar Nggak Terlalu Repot

Terus gimana dong kalau sudah telanjur punya bakat jadi "keran bocor"? Pertama, terima kenyataan. Nggak perlu terlalu stres karena stres malah bikin makin basah. Kedua, investasilah di produk yang tepat. Kalau deodoran biasa nggak mempan, cari yang labelnya antiperspirant. Bedanya jelas: deodoran cuma buat nutupin bau, sementara antiperspirant bertugas buat menyumbat saluran keringat sementara supaya nggak banjir.



Ketiga, pilih pakaian dengan bijak. Katun adalah sahabat terbaikmu. Hindari warna-warna "berisiko" seperti abu-abu muda kalau nggak mau terlihat habis kehujanan lokal. Warna hitam atau motif ramai biasanya lebih aman buat menyamarkan bercak basah. Dan buat kamu yang tangannya sering basah, selalu sedia tisu atau sapu tangan di kantong itu bukan hal yang memalukan, kok. Itu namanya persiapan.

Kesimpulannya, keringat berlebihan itu memang menjengkelkan, tapi itu bukan kiamat. Banyak orang sukses, keren, dan hebat yang juga berjuang sama masalah yang sama. Yang penting, jaga kebersihan diri biar keringat itu nggak berubah jadi aroma yang mengganggu orang sekitar. Anggap saja tubuhmu itu mesin yang radiatornya terlalu rajin bekerja. Capek memang jadi si paling basah, tapi setidaknya kamu tahu kalau tubuhmu itu sangat responsif terhadap keadaan, meski kadang responsnya agak kelewatan.