Minggu, 11 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Penyakit yang Gejalanya Mirip Masuk Angin, tetapi Bisa Lebih Serius

Laila - Saturday, 10 October 2026 | 08:11 PM

Background
Penyakit yang Gejalanya Mirip Masuk Angin, tetapi Bisa Lebih Serius

Istilah masuk angin sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi ketika tubuh terasa tidak nyaman, seperti meriang, pegal-pegal, kembung, mual, atau kelelahan. Keluhan ini biasanya dianggap ringan dan diatasi dengan beristirahat, mengonsumsi minuman hangat, atau melakukan perawatan rumahan.

Namun, masuk angin bukan istilah diagnosis medis yang merujuk pada satu penyakit tertentu. Gejala yang dianggap sebagai masuk angin bisa muncul akibat berbagai kondisi, termasuk infeksi dan gangguan pada organ tubuh.

Sebagian penyakit dapat menunjukkan gejala awal yang ringan sehingga sulit dibedakan hanya berdasarkan keluhan yang dirasakan. Karena itu, penting untuk mengenali beberapa penyakit yang gejalanya dapat menyerupai masuk angin, terutama jika keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik.

1. Influenza, Infeksi Virus yang Menyerang Saluran Pernapasan

Influenza atau flu merupakan infeksi virus yang dapat menimbulkan gejala berupa demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, batuk, dan kelelahan. Keluhan tersebut terkadang dianggap sebagai masuk angin karena membuat tubuh terasa tidak nyaman.

Berbeda dari keluhan ringan yang cepat mereda, influenza dapat menyebabkan tubuh terasa sangat lemas dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Gejala biasanya muncul secara mendadak, meskipun tingkat keparahannya berbeda pada setiap orang.



Pada kelompok tertentu, seperti lansia, anak kecil, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis, influenza berisiko berkembang menjadi komplikasi, termasuk pneumonia.

Jika disertai sesak napas, nyeri dada, atau kondisi tubuh yang memburuk, segera cari pertolongan medis.

2. Demam Berdarah Dengue yang Bisa Diawali Demam dan Pegal

Demam berdarah dengue atau DBD merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Pada tahap awal, gejalanya dapat menyerupai kondisi tubuh yang sedang tidak fit.

Penderita dapat mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, serta tubuh terasa lemas. Gejala tersebut membuat DBD terkadang sulit dibedakan dari infeksi lain pada awal kemunculannya.

Hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan kondisi ketika demam mulai turun. Pada sebagian penderita, fase ini justru dapat menjadi masa kritis, terutama jika muncul tanda peringatan seperti nyeri perut hebat, muntah berulang, perdarahan, napas cepat, atau tubuh terasa sangat lemah.



Jika mengalami gejala yang mengarah pada DBD, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Jangan menganggap demam yang menurun selalu berarti kondisi sudah membaik.

3. Tifus atau Demam Tifoid yang Menyebabkan Tubuh Lemas

Demam tifoid, yang sering disebut tifus oleh masyarakat, merupakan infeksi akibat bakteri Salmonella Typhi. Penyakit ini dapat menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Gejalanya dapat berupa demam yang berlangsung beberapa hari, sakit kepala, tubuh lemas, nyeri perut, kehilangan nafsu makan, serta perubahan pola buang air besar. Pada sebagian orang, keluhan pencernaan lebih menonjol dibandingkan gejala lainnya.

Karena demam dan rasa lemas dapat menyerupai masuk angin, penyakit ini terkadang tidak langsung dikenali. Padahal, demam tifoid yang tidak ditangani dengan tepat berpotensi menyebabkan komplikasi serius, termasuk perdarahan atau kebocoran usus.

Menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi air minum yang aman, dan memastikan makanan dimasak secara higienis dapat membantu mengurangi risiko penularan.



4. Leptospirosis, Infeksi yang Berkaitan dengan Air Tercemar

Leptospirosis merupakan penyakit akibat bakteri Leptospira yang dapat menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus. Bakteri tersebut dapat mencemari air atau tanah, kemudian masuk ke tubuh melalui luka pada kulit atau selaput lendir.

Gejala awalnya dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, menggigil, mual, dan muntah. Nyeri otot, terutama pada betis, juga dapat ditemukan pada sebagian penderita.

Keluhan tersebut bisa disalahartikan sebagai masuk angin atau kelelahan, khususnya setelah beraktivitas di luar rumah. Namun, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi berat yang memengaruhi ginjal, hati, dan organ lainnya.

Orang yang mengalami demam setelah kontak dengan banjir, air kotor, atau lingkungan yang berpotensi tercemar urine hewan sebaiknya segera memeriksakan diri. Informasi mengenai paparan tersebut penting disampaikan kepada dokter.

5. Malaria yang Menimbulkan Demam dan Menggigil

Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.



Penyakit ini dapat menimbulkan demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Pada tahap awal, gejalanya bisa menyerupai penyakit infeksi lain sehingga penyebabnya tidak selalu mudah dikenali.

Malaria memerlukan diagnosis dan pengobatan yang tepat karena beberapa jenis infeksinya dapat berkembang dengan cepat dan menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa.

Jika mengalami demam setelah bepergian atau tinggal di daerah yang memiliki risiko malaria, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan darah dapat membantu memastikan diagnosis.

6. Pneumonia, Infeksi Paru yang Bisa Diawali Keluhan Umum

Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada jaringan paru-paru. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau mikroorganisme lainnya.

Pada awalnya, penderita mungkin mengalami demam, menggigil, kelelahan, dan nyeri tubuh. Gejala tersebut bisa dianggap sebagai kondisi tubuh yang sedang tidak fit.



Seiring perkembangan penyakit, dapat muncul batuk berdahak, sesak napas, nyeri dada saat bernapas atau batuk, serta penurunan kondisi tubuh secara keseluruhan.

Pneumonia dapat menjadi serius, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta. Jika mengalami sesak napas, bibir kebiruan, kebingungan, atau nyeri dada berat, segera cari pertolongan medis.

7. Infeksi Saluran Kemih yang Menyebabkan Meriang

Infeksi saluran kemih atau ISK terjadi ketika mikroorganisme, umumnya bakteri, menginfeksi bagian saluran kemih. Gejalanya bergantung pada bagian saluran kemih yang terdampak.

Infeksi pada kandung kemih dapat menyebabkan nyeri atau rasa terbakar ketika buang air kecil, sering ingin buang air kecil, serta rasa tidak nyaman di perut bagian bawah.

Jika infeksi menyebar hingga ginjal, penderita dapat mengalami demam, menggigil, nyeri pada pinggang atau punggung, mual, dan muntah. Keluhan ini bisa dianggap sebagai masuk angin apabila gejala saluran kemih tidak terlalu diperhatikan.



Infeksi ginjal membutuhkan penanganan medis karena dapat berkembang menjadi komplikasi serius. Segera periksakan diri jika demam disertai nyeri pinggang atau keluhan saat buang air kecil.

Kapan Gejala yang Mirip Masuk Angin Perlu Diwaspadai?

Tidak semua keluhan meriang atau pegal-pegal menandakan penyakit serius. Namun, ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan, seperti demam tinggi atau berkepanjangan, muntah berulang, sakit perut hebat, perdarahan, sesak napas, penurunan kesadaran, dan berkurangnya jumlah urine.

Gejala yang disertai riwayat paparan tertentu, seperti gigitan nyamuk di daerah endemis atau kontak dengan air banjir, juga perlu mendapat perhatian.

Hindari mendiagnosis penyakit hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Sejumlah penyakit memiliki keluhan yang serupa, tetapi membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan yang berbeda.

Jangan Hanya Mengandalkan Perawatan Rumahan

Istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengonsumsi makanan bergizi dapat membantu menjaga kondisi tubuh saat mengalami keluhan ringan. Namun, langkah tersebut tidak menggantikan pemeriksaan medis apabila terdapat tanda bahaya atau kondisi semakin memburuk.



Penggunaan obat juga perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi kesehatan. Hindari mengonsumsi antibiotik tanpa resep karena obat tersebut tidak efektif untuk semua jenis infeksi dan penggunaannya yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Pada akhirnya, mengenali perubahan kondisi tubuh merupakan langkah penting untuk menentukan kapan perawatan mandiri masih memadai dan kapan bantuan medis diperlukan. Keluhan yang terlihat seperti masuk angin sebaiknya tidak disepelekan jika disertai gejala yang tidak biasa atau semakin berat.