Kamis, 24 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Panggang Daging dalam Tanah, Cara Memasak Unik yang Sudah Dilakukan Sejak Lama

Tata - Thursday, 24 September 2026 | 09:25 AM

Background
Panggang Daging dalam Tanah, Cara Memasak Unik yang Sudah Dilakukan Sejak Lama

Memasak daging identik dengan penggunaan wajan, oven, panggangan, atau alat modern lainnya. Namun, jauh sebelum peralatan tersebut dikenal luas, manusia sudah menemukan berbagai teknik sederhana untuk mengolah makanan.

Salah satu metode yang cukup unik adalah memasak daging di dalam tanah.

Teknik ini biasanya dilakukan dengan membuat lubang di tanah, kemudian memasukkan sumber panas seperti batu yang dipanaskan atau bara. Daging yang sudah disiapkan ditempatkan di dalam ruang tersebut sebelum lubang ditutup menggunakan bahan tertentu.

Meski terdengar sederhana, cara ini sebenarnya memanfaatkan prinsip perpindahan panas yang cukup efektif.

Berawal dari cara memasak sederhana

Memasak menggunakan lubang tanah diperkirakan berkembang dari kebutuhan manusia untuk mengolah makanan menggunakan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.



Pada masa ketika belum tersedia kompor atau oven, api dan batu menjadi sumber panas yang penting. Dari pengalaman tersebut, manusia kemudian menemukan bahwa panas dapat disimpan lebih lama jika bara dan batu panas ditempatkan di ruang yang tertutup.

Tanah berfungsi membantu mempertahankan panas sekaligus menjadi bagian dari ruang memasak.

Teknik seperti ini kemudian berkembang dalam berbagai kebudayaan dengan cara, bahan, dan nama yang berbeda-beda.

Bagaimana daging bisa matang di dalam tanah?

Prinsipnya sebenarnya cukup mudah.

Lubang dibuat terlebih dahulu di tanah dengan ukuran yang disesuaikan dengan jumlah makanan. Batu atau sumber panas kemudian dipanaskan menggunakan api hingga memiliki suhu tinggi.



Setelah itu, sumber panas ditempatkan di dalam lubang.

Daging yang sudah dibungkus atau dilapisi bahan tertentu kemudian diletakkan di atas atau di antara sumber panas tersebut. Lubang selanjutnya ditutup agar panas tidak cepat keluar.

Dalam kondisi tertutup, panas dari batu dan bara secara perlahan berpindah ke daging.

Proses tersebut membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan memasak menggunakan api secara langsung. Namun, panas yang berlangsung perlahan dapat membantu mengubah tekstur daging.

Bukan sekadar memanggang

Meskipun sering disebut memanggang, teknik memasak dalam tanah sebenarnya dapat melibatkan beberapa proses sekaligus.



Daging memperoleh panas dari sumber panas yang berada di sekitarnya. Uap dan kelembapan yang terperangkap di dalam ruang tertutup juga dapat membantu menjaga makanan agar tidak terlalu cepat kehilangan cairan.

Karena itu, hasil akhirnya tidak selalu sama dengan daging yang dipanggang langsung di atas bara.

Daging yang dimasak dengan metode ini dapat memiliki tekstur yang lebih lembut dan cita rasa yang khas, terutama ketika menggunakan bumbu serta bahan pembungkus tertentu.

Ada yang menggunakan batu panas

Salah satu bagian penting dalam metode memasak ini adalah penggunaan batu yang mampu menyimpan panas.

Batu dipanaskan terlebih dahulu dengan api hingga mencapai suhu yang cukup tinggi. Setelah itu, batu dimasukkan ke dalam lubang dan digunakan sebagai sumber panas untuk makanan.



Pada beberapa metode tradisional, batu panas dapat ditempatkan di bagian bawah, di sekitar makanan, atau di atasnya.

Susunan tersebut bertujuan membuat panas menyebar dari berbagai arah sehingga daging dapat matang secara perlahan.

Setiap daerah bisa punya cara berbeda

Teknik memasak dalam tanah tidak hanya memiliki satu bentuk.

Di berbagai wilayah dunia, metode serupa berkembang dengan karakteristik masing-masing. Ada yang menggunakan lubang tanah sederhana, ada pula yang membuat struktur khusus agar panas dapat bertahan lebih lama.

Bahan pembungkus makanan juga berbeda-beda. Beberapa tradisi menggunakan daun, sementara teknik lain menggunakan bahan alami yang tersedia di daerah tersebut.



Perbedaan tersebut membuat hasil masakan memiliki karakter rasa dan aroma yang berbeda pula.

Memasak dalam tanah juga membutuhkan waktu

Salah satu ciri utama metode ini adalah proses memasaknya yang relatif lama.

Setelah lubang ditutup, makanan biasanya tidak langsung diangkat. Waktu memasak bergantung pada ukuran daging, jumlah makanan, suhu sumber panas, kedalaman lubang, serta teknik yang digunakan.

Inilah yang membuat metode tersebut berbeda dari memasak menggunakan kompor.

Jika menggunakan api langsung, seseorang dapat melihat dan mengatur panas secara lebih mudah. Sementara dalam teknik memasak di dalam tanah, sumber panas berada di ruang tertutup sehingga prosesnya lebih sulit dipantau.



Mengapa daging bisa menjadi empuk?

Daging tersusun dari jaringan otot dan jaringan ikat. Ketika dimasak dengan panas yang cukup dalam waktu tertentu, beberapa komponen jaringan tersebut mengalami perubahan.

Pada metode memasak yang berlangsung perlahan, kolagen dalam jaringan ikat dapat berubah menjadi gelatin. Proses ini dapat membantu menghasilkan tekstur daging yang lebih lunak.

Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada jenis daging, ukuran potongan, suhu, dan lamanya proses memasak.

Jadi, bukan semata-mata karena daging dimasukkan ke dalam tanah, tetapi karena kondisi panas dan waktu memasak yang digunakan.

Tradisi yang masih menarik hingga sekarang

Walaupun teknologi memasak sudah berkembang sangat jauh, teknik memasak dalam tanah masih menarik perhatian.



Bagi sebagian masyarakat, metode tersebut bukan sekadar cara mengolah makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan identitas budaya.

Proses memasaknya sering dilakukan dalam kegiatan tertentu dan melibatkan banyak orang. Mulai dari menyiapkan lubang, menyalakan api, memanaskan batu, menyiapkan daging, hingga membuka kembali makanan setelah proses memasak selesai.

Hal tersebut membuat kegiatan memasak menjadi bagian dari pengalaman sosial.

Rasanya juga dipengaruhi cara memasak

Selain tekstur, metode memasak dapat memengaruhi aroma dan cita rasa makanan.

Daging yang dimasak perlahan dalam ruang tertutup memiliki karakter berbeda dibandingkan daging yang langsung terkena api. Bumbu dan bahan aromatik yang digunakan juga dapat memberikan pengaruh terhadap hasil akhirnya.



Jika menggunakan daun atau bahan alami tertentu sebagai pembungkus, aroma dari bahan tersebut dapat ikut memberikan karakter pada makanan.

Karena itu, teknik memasak tradisional sering kali menghasilkan pengalaman makan yang berbeda meskipun bahan utamanya sama.

Tetap perlu memperhatikan keamanan makanan

Di balik keunikannya, memasak daging dengan metode tradisional tetap membutuhkan perhatian terhadap keamanan pangan.

Daging harus mencapai suhu internal yang cukup agar mikroorganisme berbahaya dapat dikendalikan. Waktu memasak juga tidak boleh hanya diperkirakan berdasarkan tampilan luar daging.

Penggunaan bahan pembungkus harus diperhatikan agar memang aman digunakan untuk memasak. Selain itu, lubang dan lingkungan sekitar perlu dijaga kebersihannya untuk mengurangi risiko kontaminasi.



Jadi, tradisional bukan berarti mengabaikan prinsip keamanan makanan.

Kesimpulan:

Memasak daging di dalam tanah merupakan salah satu teknik pengolahan makanan tradisional yang memanfaatkan panas dari batu, bara, dan ruang tertutup.

Cara ini menunjukkan bagaimana manusia sejak dahulu memanfaatkan lingkungan dan memahami panas untuk mengolah makanan tanpa membutuhkan peralatan modern.

Selain menghasilkan tekstur dan aroma yang khas, memasak dalam tanah juga dapat menjadi bagian dari tradisi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah banyaknya teknologi memasak modern, metode tersebut tetap menarik karena memperlihatkan bahwa cara sederhana pun dapat menghasilkan hidangan yang kaya rasa dan sejarah.