Menyelami Kedalaman Rindu dalam Alunan Masihol
Liaa - Sunday, 29 March 2026 | 01:00 PM


Menyelami Kedalaman Rindu dalam Alunan Masihol: Lagu Wajib Para Perantau Batak
Pernah nggak sih kalian lagi asyik nongkrong di kafe tengah kota Jakarta yang bising, atau lagi melamun sendirian di kamar kos di Jogja, tiba-tiba lewat satu lagu dengan petikan gitar akustik yang renyah dan harmonisasi vokal yang bikin merinding? Kalau kalian orang Batak, atau minimal punya teman orang Batak, kemungkinan besar lagu itu adalah salah satu karya dari Marsada Band. Dan kalau bicara soal lagu yang paling sukses bikin pertahanan mental para perantau runtuh, jawabannya cuma satu: Masihol.
Masihol bukan sekadar deretan lirik yang dinyanyikan. Bagi banyak orang, lagu ini adalah mesin waktu. Begitu intro musiknya masuk, kita seolah ditarik paksa melintasi ribuan kilometer menuju tepian Danau Toba yang dingin, lengkap dengan bau tanah sehabis hujan dan suara tawa di kedai kopi atau lapo. Marsada Band, grup musik asal Samosir ini, memang punya cara ajaib untuk membungkus rasa rindu menjadi sebuah mahakarya yang jujur dan tanpa pretensi.
Apa Itu Masihol? Lebih dari Sekadar Kangen
Secara harfiah, dalam bahasa Batak Toba, "Masihol" itu artinya rindu atau kangen. Tapi, jujurly, kata "kangen" dalam bahasa Indonesia rasanya kurang kuat untuk menggambarkan kedalaman makna Masihol di lagu ini. Kalau kangen itu biasanya buat pacar yang baru sehari nggak ketemu, Masihol di sini adalah jenis rindu yang berkarat. Rindu yang sudah menumpuk bertahun-tahun, rindu yang bercampur dengan rasa bersalah karena belum bisa membahagiakan orang tua di kampung halaman.
Lagu ini bercerita tentang seorang perantau yang sedang berjuang di tanah orang. Di tengah kerasnya hidup, dia teringat akan kampung halamannya (bonapasogit). Dia rindu pada suasana desa, rindu pada teman-teman masa kecilnya, tapi yang paling utama dan paling dalam: dia rindu pada ibunya atau dalam bahasa Batak disebut Inang. Inilah yang bikin lagu ini punya "nyawa". Karena bagi orang Batak, Ibu adalah sosok sentral yang doanya dianggap sebagai bahan bakar utama kesuksesan anak-anaknya di perantauan.
Bedah Lirik yang Bikin Hati Teriris
Mari kita lihat bagaimana Marsada Band meramu liriknya. Mereka nggak pakai kata-kata puitis yang ribet atau metafora yang bikin dahi berkerut. Mereka pakai bahasa sehari-hari yang sangat dekat dengan kehidupan. Dalam salah satu baitnya, diceritakan betapa sang perantau merasa kesepian di tengah keramaian kota. Dia ingat bagaimana dulu di kampung, meski hidup sederhana, hatinya merasa tenang karena ada sosok ibu yang selalu menyambutnya dengan kasih sayang.
Ada satu bagian yang sering bikin pendengarnya "auto-mewek", yaitu saat liriknya menyebutkan keinginan untuk pulang tapi keadaan belum memungkinkan. Ini adalah dilema klasik perantau: mau pulang tapi malu karena belum sukses, tapi kalau nggak pulang, rasa rindunya sudah sampai ke ubun-ubun. Marsada Band berhasil menangkap kegelisahan itu dengan sangat presisi. Vokal mereka yang pecah suara (harmonisasi) khas grup vokal Batak memberikan tekstur emosi yang makin tebal.
Gaya bernyanyi Marsada yang santai tapi penuh penghayatan bikin kita merasa lagi dicurhatin sama abang sendiri di teras rumah. Nggak ada kesan pamer teknik vokal yang berlebihan. Semuanya mengalir apa adanya, seperti air Danau Toba yang tenang tapi menghanyutkan.
Vibe Akustik yang Bikin "Nagih"
Satu hal yang bikin lagu Masihol ini beda dari lagu Batak kebanyakan pada zamannya adalah aransemennya yang sangat organik. Marsada Band dikenal karena konsistensi mereka di jalur akustik. Penggunaan instrumen seperti gitar akustik, mandolin, dan perkusi ringan menciptakan suasana yang sangat "earthy". Tidak ada dentuman drum elektrik yang bising atau synthesizer yang aneh-aneh.
Musik seperti ini justru jauh lebih efektif untuk menyampaikan pesan kesedihan dan kerinduan. Rasanya seperti mendengarkan musik langsung di pinggir pantai Tuk-tuk atau Tomok saat matahari terbenam. Bagi anak muda zaman sekarang yang mungkin lebih suka genre indie-folk, musik Marsada Band ini sebenarnya masuk banget ke selera mereka. Masihol adalah bukti kalau musik daerah nggak harus kaku dan bisa tetap relevan melintasi zaman.
Kenapa Lagu Ini Tetap Abadi?
Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa sih lagu lama kayak Masihol masih sering diputar di YouTube atau Spotify dan view-nya tetap jutaan? Jawabannya sederhana: kejujuran emosi. Kita hidup di zaman di mana semuanya serba cepat dan kadang terasa palsu di media sosial. Tapi, rasa rindu pada rumah adalah perasaan universal yang nggak akan pernah kedaluwarsa.
Setiap kali ada perantau yang merasa gagal, atau sekadar merasa lelah dengan tekanan pekerjaan di kota besar, mereka akan lari ke lagu-lagu seperti Masihol. Lagu ini menjadi semacam "pelukan digital" yang membisikkan bahwa nggak apa-apa untuk merasa sedih dan merindukan rumah. Ia menjadi pengingat tentang akar identitas kita di tengah gempuran budaya luar yang begitu masif.
Bahkan buat mereka yang nggak mengerti bahasa Batak sekalipun, getaran emosi dalam lagu Masihol tetap bisa dirasakan. Itulah kekuatan musik. Melodi dan cara Marsada Band membawakan lagu ini sudah cukup untuk bercerita tentang rasa kehilangan dan harapan.
Penutup: Sebuah Penghormatan untuk Ibu
Pada akhirnya, makna terdalam dari lagu Masihol adalah sebuah penghormatan untuk sosok Ibu. Di balik setiap langkah kaki perantau yang menjauh dari kampung halaman, ada doa ibu yang terus mengikuti. Lagu ini mengingatkan kita bahwa sejauh apa pun kita pergi, setinggi apa pun jabatan yang kita raih, kita tetaplah seorang anak yang butuh "pulang" ke pelukan orang tua.
Jadi, kalau hari ini kalian lagi dengar lagu Masihol dari Marsada Band dan tiba-tiba mata terasa panas, jangan ditahan. Itu tandanya kalian masih punya hati yang tahu jalan pulang. Ambil HP, telpon orang tua di kampung, dan bilang kalau kalian rindu. Karena seperti yang dibilang Marsada lewat lagunya, rindu itu harus disampaikan, sebelum waktu yang justru menghabiskan kesempatan kita untuk kembali.
Masihol bukan sekadar lagu rindu biasa; ia adalah anthem perjuangan, pengingat asal-usul, dan doa yang dinyanyikan dengan penuh cinta. Salut untuk Marsada Band yang sudah menciptakan karya seindah ini.
Next News

King of Pop yang Mengubah Sejarah Musik Dunia: Michael Jackson
14 hours ago

Makna Lagu Send My Love by Adele
a day ago

Asyik dan Viral! Lagu "RUDE" dari Hearts2Hearts (H2H) Bikin Timeline Ramai, Kok Bisa?
a day ago

Bruno Mars Rilis "Risk It All", Lagu yang Dinanti-Nantikan Akhirnya Hadir! Apa Maknanya?
a day ago

BTS Resmi Comeback! Rilis Album KEEP SWIMMING di 2026
a day ago

Rahasia Ketenangan di Balik Melodi Indah Qalbi Fil Madinah
4 days ago

Menelusuri Labirin Pikiran dalam "Mangu"
11 days ago

Setelah Gala Bunga Matahari, Simak Ada Titik di Ujung Doa
13 days ago

Lagu Galau: Terapi Emosi yang Menenangkan atau Justru Memperdalam Luka?
13 days ago

Mengenal Gala Bunga Matahari, Lagu Kebangsaan Para Perindu
14 days ago



