Senin, 10 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Kita Sering Overthinking? Ini Penjelasan dari Sisi Psikologi

Liaa - Monday, 10 August 2026 | 09:20 AM

Background
Mengapa Kita Sering Overthinking? Ini Penjelasan dari Sisi Psikologi

Mengapa Kita Sering Overthinking? Bukan Cuma Kebanyakan Pikiran, Tapi Ini Penjelasan Psikologisnya

Pernah nggak sih, pas lo lagi rebahan cantik jam satu pagi, mata udah tinggal lima watt, tiba-tiba otak lo muter ulang kejadian memalukan pas zaman SMP? Atau mungkin, lo baru aja kirim chat ke gebetan, tapi karena nggak dibalas selama sepuluh menit, lo mulai bikin skenario film horor di kepala kalau dia sebenernya benci sama lo? Selamat, lo baru saja terjebak dalam pusaran bernama overthinking.

Istilah overthinking belakangan ini kayaknya udah jadi "makanan sehari-hari" anak muda. Di media sosial, dikit-dikit kita bilang lagi overthinking. Tapi, sebenernya apa sih yang terjadi di balik layar tempurung kepala kita? Kenapa otak kita hobi banget muter rekaman yang sama berulang-ulang kayak kaset rusak, padahal kita sendiri capek dengernya?

Bukan Sekadar "Berpikir", Tapi "Terjebak"

Dalam kacamata psikologi, overthinking itu punya nama yang agak lebih mentereng: ruminasi dan kekhawatiran berlebih. Bedanya tipis-tipis sedap. Ruminasi itu biasanya pas lo terobsesi sama hal-hal yang udah lewat—kayak menyesali omongan lo ke bos tadi siang. Sementara kekhawatiran berlebih itu fokusnya ke masa depan yang belum tentu terjadi, alias "gimana kalau nanti begini" atau "gimana kalau nanti begitu".

Masalahnya, otak manusia itu secara evolusioner emang didesain buat nyari masalah. Dulu, nenek moyang kita harus waspada sama macan atau ular di balik semak-semak. Sekarang, macannya udah nggak ada, tapi otak kita masih punya insting deteksi bahaya yang sama. Bedanya, "bahaya" zaman sekarang bentuknya adalah centang biru yang nggak berubah jadi dua, atau tatapan sinis rekan kerja saat meeting. Amigdala kita—bagian otak yang ngurusin emosi—ngasih sinyal bahaya, dan akhirnya otak kita pun muter nyari solusi yang nggak ketemu-ketemu. Akhirnya? Ya overthinking itu tadi.

Kebutuhan Akan Kendali yang Kebablasan

Salah satu alasan psikologis kenapa kita sering overthinking adalah ilusi akan kendali. Kita ngerasa kalau kita mikirin suatu masalah berkali-kali dari sejuta sudut pandang, kita bakal punya kendali lebih atas situasi itu. Padahal, kenyataannya nggak selalu begitu. Mikirin kenapa mantan mutusin kita selama tujuh hari tujuh malam nggak bakal bikin dia tiba-tiba nge-chat "apa kabar" lagi.



Banyak dari kita yang sebenernya takut sama ketidakpastian. Dunia ini kan random banget ya, banyak hal yang terjadi di luar kontrol kita. Overthinking adalah cara otak kita mencoba mengisi kekosongan itu. Kita ngerasa kalau kita udah antisipasi skenario terburuk, kita bakal lebih aman. Tapi bukannya jadi aman, yang ada malah badan kita kerasa kayak habis lari maraton padahal cuma tiduran di kasur.

Standar Tinggi dan Budaya Hustle

Coba deh perhatikan, seringkali overthinking dateng karena kita punya standar yang terlalu tinggi buat diri sendiri alias perfeksionisme. Di era media sosial kayak sekarang, tekanan buat jadi "sukses", "cakep", atau "hidupnya tertata" itu kenceng banget. Kita ngelihat feed orang lain yang isinya cuma pencapaian, lalu mulai nanya ke diri sendiri: "Gue udah cukup oke belum ya?" atau "Kenapa hidup gue stagnan gini-gini aja?".

Budaya hustle culture juga bikin kita ngerasa bersalah kalau otak lagi istirahat. Kita ngerasa setiap detik harus produktif, bahkan cara kita beristirahat pun dipikirin matang-matang supaya "optimal". Walhasil, waktu luang yang harusnya jadi momen recharge malah jadi ajang buat menghakimi diri sendiri. Inilah yang bikin kesehatan mental kita makin hari makin kayak biskuit yang direndam air teh—gampang hancur.

Gimana Cara Keluar dari Lingkaran Setan Ini?

Sebenernya, nyuruh orang berhenti overthinking itu sama kayak nyuruh orang berhenti lapar; nggak bisa instan. Tapi, para psikolog biasanya nyaranin kita buat belajar "sadar" atau mindfulness. Sadar kalau lo lagi overthinking adalah langkah pertama yang krusial. Pas otak lo mulai liar, coba interupsi dengan bilang, "Eh, gue lagi overthinking nih. Oke, cukup dulu."

Cara lain yang cukup ampuh tapi jarang dilakukan adalah dengan membatasi waktu buat mikir. Kasih waktu sendiri, misalnya jam 7 malem selama 15 menit buat mikirin semua kecemasan lo. Begitu waktunya habis, ya udah, lanjut kegiatan lain. Kalau pikiran itu dateng lagi, bilang sama diri sendiri buat simpan pikiran itu buat "sesi curhat sama diri sendiri" besok malam.



Terakhir, jangan lupa buat gerak fisik. Kadang, pikiran kita macet karena energi kita nggak tersalurkan. Jalan kaki sebentar atau sekadar beberes kamar bisa ngebantu ngalihin fokus otak dari pikiran abstrak ke aktivitas konkret. Intinya, jangan biarin otak lo jadi penjara buat diri lo sendiri.

Overthinking itu manusiawi, kok. Itu tanda kalau lo peduli sama hidup lo. Tapi inget, hidup itu buat dijalanin, bukan cuma buat dipikirin sampai pusing sendiri. Jangan sampai lo terlalu sibuk mikirin cara berenang sampai lupa buat nyemplung ke airnya. Kadang, jawaban dari semua pertanyaan yang muter di kepala lo itu cuma satu: biarin aja dulu, jalani aja yang ada sekarang.

Tags