Senin, 2 November 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Jengkol Bisa Menimbulkan Risiko Keracunan Jika Dikonsumsi Berlebihan? Kenali Penyebab dan Gejalanya

Tata - Monday, 02 November 2026 | 08:05 PM

Background
Mengapa Jengkol Bisa Menimbulkan Risiko Keracunan Jika Dikonsumsi Berlebihan? Kenali Penyebab dan Gejalanya

Jengkol merupakan salah satu bahan makanan yang cukup populer di Indonesia. Bahan pangan ini sering diolah menjadi berbagai hidangan, seperti semur jengkol, jengkol balado, hingga jengkol goreng. Meskipun memiliki cita rasa khas dan mengandung sejumlah zat gizi, jengkol tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan karena dapat menimbulkan risiko keracunan.

Salah satu penyebab utamanya adalah kandungan asam jengkolat atau djenkolic acid yang secara alami terdapat dalam biji jengkol. Senyawa ini mengandung sulfur dan dapat membentuk kristal apabila kadarnya tinggi dalam urine, terutama ketika kondisi urine mendukung terjadinya pengendapan.

1. Kandungan Asam Jengkolat Dapat Membentuk Kristal

Asam jengkolat menjadi faktor utama yang menyebabkan seseorang mengalami kejengkolan. Ketika senyawa tersebut mengendap dan membentuk kristal, saluran kemih dapat mengalami iritasi hingga penyumbatan.

Kondisi ini bisa menyebabkan rasa nyeri pada bagian pinggang, perut bawah, serta ketika buang air kecil. Risiko gangguan dapat meningkat apabila seseorang mengonsumsi jengkol dalam jumlah banyak.



2. Dapat Mengganggu Fungsi Ginjal

Ginjal memiliki peran penting dalam menyaring zat sisa metabolisme dari darah. Namun, kristal asam jengkolat yang terbentuk di saluran kemih berpotensi menghambat aliran urine.

Jika penyumbatan berlangsung, tekanan pada saluran kemih dapat meningkat dan menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Dalam kondisi berat, kejengkolan bahkan dapat menyebabkan cedera ginjal akut.

3. Menimbulkan Gejala Keracunan

Keracunan jengkol atau kejengkolan dapat menimbulkan berbagai gejala yang perlu diwaspadai. Beberapa di antaranya adalah nyeri perut, mual, muntah, nyeri pinggang, serta kesulitan ketika buang air kecil.



Pada kondisi tertentu, urine juga dapat berkurang secara drastis atau bahkan tidak keluar. Gejala biasanya muncul beberapa jam setelah mengonsumsi jengkol, meskipun waktu kemunculannya dapat berbeda pada setiap orang.

4. Risiko Tidak Selalu Sama pada Setiap Orang

Tidak semua orang mengalami kejengkolan setelah mengonsumsi jengkol. Tingkat risiko dapat dipengaruhi oleh jumlah jengkol yang dikonsumsi, kondisi tubuh, kecukupan cairan, serta faktor individu lainnya.

Namun, seseorang yang sebelumnya pernah mengalami kejengkolan tetap perlu berhati-hati karena mengonsumsi jengkol kembali dapat memicu keluhan serupa.

5. Cara Mengonsumsi Jengkol dengan Lebih Aman



Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, sebaiknya konsumsi jengkol dalam jumlah terbatas dan tidak menjadikannya makanan yang dikonsumsi berlebihan.

Pastikan jengkol diolah dengan baik sebelum dikonsumsi dan cukupi kebutuhan cairan harian. Namun, perlu dipahami bahwa proses perebusan atau pengolahan tidak menjamin seluruh kandungan asam jengkolat hilang.

Jika setelah mengonsumsi jengkol muncul keluhan nyeri pinggang, nyeri saat buang air kecil, atau urine menjadi sangat sedikit, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Kesimpulan

Jengkol memang memiliki cita rasa khas yang membuatnya digemari banyak orang. Akan tetapi, kandungan asam jengkolat di dalamnya dapat menimbulkan risiko kejengkolan apabila menyebabkan pembentukan kristal pada saluran kemih. Oleh karena itu, konsumsi jengkol sebaiknya dibatasi dan gejala gangguan saluran kemih setelah mengonsumsinya tidak boleh diabaikan.