Makna Lagu Can I Be Him Milik James Arthur
Liaa - Sunday, 05 April 2026 | 12:00 PM


Nyesek Maksimal: Menguliti Makna Lagu Can I Be Him Milik James Arthur
Pernah nggak sih lo lagi asyik scrolling Instagram, terus tiba-tiba muncul foto gebetan atau mantan yang lagi nempel banget sama orang baru? Ada rasa nyut-nyutan di dada yang susah dijelasin, kan? Rasanya kayak pengen teriak ke layar HP, "Duh, kenapa harus dia sih? Kenapa nggak gue aja?" Nah, kalau lo pernah berada di posisi itu, selamat, lo adalah target pasar utama dari lagu-lagu James Arthur, terutama mahakaryanya yang berjudul Can I Be Him.
James Arthur itu emang juaranya bikin lagu yang bikin pendengarnya ngerasa kayak lagi disayat-sayat pake silet tumpul—sakit tapi nagih. Suaranya yang serak-serak basah penuh penderitaan itu seolah-olah menjadi juru bicara bagi kaum-kaum yang cintanya bertepuk sebelah tangan atau terjebak dalam zona nyaman yang menyiksa. Can I Be Him bukan sekadar lagu galau biasa; ini adalah manifesto dari rasa iri, insecure, dan harapan kosong yang dibungkus dengan melodi yang manis sekaligus perih.
Plot Twist di Balik Lirik: Menjadi Penonton di Kehidupan Orang Lain
Mari kita bedah liriknya perlahan. Lagu ini dibuka dengan narasi yang sangat visual. Bayangkan lo lagi ada di sebuah ruangan, mungkin di sebuah pesta atau kafe, dan di sana ada sosok yang lo puja. Masalahnya, dia nggak sendirian. Dia lagi tertawa, berbagi cerita, dan mungkin pegangan tangan sama cowok lain. James Arthur dengan jujur bilang, "I heard you found the one you've been looking for."
Kalimat itu tuh sebenernya tamparan keras banget. Ada semacam pengakuan yang pahit bahwa si dia udah nemuin "kebahagiaannya", tapi kebahagiaan itu bukan berasal dari kita. Di sini, James memosisikan dirinya sebagai pengamat. Dia ngelihat gimana cowok itu memperlakukan si cewek, dan di kepalanya, dia mulai membanding-bandingkan diri. Ini adalah penyakit kronis orang yang lagi jatuh cinta sendirian: ngerasa bisa jadi versi yang lebih baik buat orang tersebut.
Ada satu lirik yang bunyinya, "You're with him and I'm here." Sesederhana itu, tapi nyeseknya minta ampun. Jarak antara "him" dan "here" itu bukan cuma soal posisi duduk, tapi soal status yang jaraknya mungkin sejauh Jakarta-London. Lo ada di situ, bernapas di udara yang sama, tapi eksistensi lo nggak lebih dari sekadar figuran di film romantis mereka.
Sindrom "I Could Be Better": Antara Cinta dan Obsesi
Bagian chorus lagu ini adalah puncak dari segala kegalauan. "Can I be him? Can I be the one who's next to you?" Pertanyaan ini sebenernya retoris. James—dan kita semua yang pernah galau—tahu jawabannya kemungkinan besar adalah "nggak". Tapi namanya juga manusia, kita seringkali terjebak dalam delusi bahwa kita punya "obat" buat segala luka yang dimiliki orang tersebut.
Di bagian ini, lagu Can I Be Him menggambarkan sebuah bentuk kecemburuan yang sehat sekaligus menyedihkan. Si narator melihat ada celah atau kekurangan dalam hubungan si dia dengan cowoknya sekarang. Dia merasa kalau dia yang ada di posisi itu, dia bakal memperlakukan si cewek bagaikan ratu. "I'll be there to catch you when you fall," katanya. Ini adalah narasi heroik yang sering kita bangun di kepala kita saat kita naksir seseorang yang (menurut kita) salah pilih pasangan.
Tapi jujur aja, seringkali ini cuma ego kita yang bicara. Kita ngerasa lebih hebat, lebih ngerti, dan lebih tulus. Padahal, cinta kan bukan soal siapa yang lebih baik di atas kertas, tapi soal siapa yang bikin hati merasa "pulang". Dan sayangnya, dalam lagu ini, rumah si cewek bukan di James, tapi di orang lain.
Vibes Sad Boy yang Estetik
Kenapa sih lagu ini masih enak didengerin meski bikin pengen nangis di pojokan kamar? Karena James Arthur pinter banget mainin emosi lewat dinamika musiknya. Awalnya tenang, cuma petikan gitar atau piano tipis-tipis, terus makin lama makin intens seiring dengan rasa frustrasi yang naik ke ubun-ubun. Pas dia teriak "Can I be him!", itu bukan cuma teknik vokal, tapi kayak suara hati yang udah kelamaan dipendem.
Di media sosial kayak TikTok atau Twitter, lagu ini sering banget dipake buat konten-konten POV (Point of View) yang relates sama anak muda zaman sekarang. Misalnya, POV lo ngeliat crush lo jadian sama orang yang selama ini dia bilang "cuma temen". Atau POV lo yang cuma bisa jadi tempat curhat saat dia lagi berantem sama pacarnya. James Arthur sukses merangkum fenomena "friendzone" atau "second choice" ini jadi sesuatu yang puitis.
Ada semacam validasi yang kita dapet pas dengerin lagu ini. Kita ngerasa nggak sendirian dalam kegoblokan mencintai orang yang nggak bisa dimiliki. Lagu ini seolah bilang, "Gapapa kok ngerasa iri, gapapa kok pengen jadi dia, itu manusiawi banget."
Realita Pahit: Melepaskan yang Bukan Milik Kita
Kalau kita dengerin sampai habis, sebenernya lagu ini nggak kasih solusi. James nggak tiba-tiba dapet ceweknya, dan si cewek juga nggak tiba-tiba sadar kalau James adalah jodohnya. Can I Be Him berakhir dengan sebuah keinginan yang tetap menggantung. Dan itulah hidup, kan? Nggak semua cinta yang kita perjuangkan lewat doa (atau sekadar dipantau lewat story Instagram) bakal berakhir bahagia.
Makna terdalam dari lagu ini sebenernya adalah soal penerimaan terhadap ketidakberdayaan. Kita bisa aja punya sejuta alasan kenapa kita lebih layak buat seseorang, tapi kalau orang tersebut nggak milih kita, ya kita bisa apa? Menjadi "dia" adalah hal yang mustahil karena kita adalah kita, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mungkin emang nggak pas buat puzzle hidup orang tersebut.
Jadi, buat lo yang sekarang lagi dengerin lagu ini sambil menatap langit-langit kamar atau ngelihatin foto profil seseorang yang nggak bisa lo sapa: nggak apa-apa. Nikmatin aja galaunya. Biarin James Arthur yang mewakili teriakan hati lo. Karena kadang, satu-satunya cara buat sembuh dari rasa pengen "menjadi dia" adalah dengan sadar kalau lo berhak dapet seseorang yang nggak bikin lo harus bertanya-tanya, "Can I be him?" melainkan seseorang yang bilang, "I'm glad it's you."
Lagu ini adalah pengingat bahwa cinta terkadang tentang melihat orang yang kita sayangi bahagia, meskipun bahagianya bukan sama kita. Pahit memang, tapi ya itulah seninya jatuh cinta. Jadi, udah siap buat dengerin Can I Be Him sekali lagi terus lanjut nangis? Jangan lupa siapin tisu, ya!
Next News

Daftar Lengkap Lineup Coachella 2026: Justin Bieber, BIGBANG hingga Karol G
in 2 hours

Top 7 Indonesian Idol 2026 Resmi Terbentuk, Siapa Paling Layak Juara?
in 2 hours

Lirik dan Makna Mendalam Parumaen Na Pogos untuk Menantu
3 days ago

Neona Rilis Single Lupa!: Sentilan Jenaka untuk Hubungan Tanpa Status
3 days ago

Lirik Lagu Selasa Paul Aro
3 days ago

Transformasi Peterpan Jadi Noah dan Legenda Bintang di Surga
4 days ago

5 Lagu Dangdut yang Wajib Masuk Playlist Kamu
5 days ago

Mark Lee Resmi Keluar dari NCT, Fokus Kejar Karier Personal
5 days ago

Mengenang Glenn Fredly: 5 Lagu Hits yang Masih Digemari di YouTube Music
5 days ago

Pesan Tersembunyi di Balik Lirik Dang Tarbolus Au Ito
6 days ago




