Jumat, 16 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Makanan Asin Bukan Satu-satunya Pemicu Hipertensi, Apa Lagi Faktor Risikonya?

Laila - Friday, 16 October 2026 | 01:07 AM

Background
Makanan Asin Bukan Satu-satunya Pemicu Hipertensi, Apa Lagi Faktor Risikonya?

Hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal secara menetap. Masalah kesehatan ini kerap disebut sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala yang jelas, meskipun dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal jika tidak ditangani dengan baik.

Selama ini, makanan asin menjadi salah satu hal yang paling sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah karena konsumsi natrium berlebihan dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga meningkatkan tekanan pada pembuluh darah. Namun, hipertensi tidak hanya disebabkan oleh konsumsi garam.

Ada sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi tekanan darah. Sebagian berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, sedangkan sebagian lainnya berhubungan dengan usia, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan tertentu.

1. Kelebihan Berat Badan

Berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi karena jantung perlu bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini juga berkaitan dengan perubahan metabolisme dan fungsi pembuluh darah yang dapat memengaruhi tekanan darah.



Menjaga berat badan dalam rentang yang sehat melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mengurangi risiko tersebut. Penurunan berat badan secara bertahap, jika memang diperlukan, juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung.

2. Kurang Melakukan Aktivitas Fisik

Kebiasaan duduk terlalu lama dan jarang berolahraga dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko tekanan darah tinggi. Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan jantung, memperbaiki sirkulasi darah, dan mendukung pengendalian berat badan.

Orang dewasa umumnya dianjurkan melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu, disertai latihan penguatan otot sesuai kemampuan. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang bisa menjadi pilihan untuk memulai kebiasaan hidup aktif.

3. Kebiasaan Merokok



Merokok dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan merusak pembuluh darah akibat paparan zat kimia dalam asap rokok. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Berhenti merokok merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Paparan asap rokok dari orang lain juga sebaiknya dihindari karena dapat membahayakan kesehatan.

4. Konsumsi Alkohol Berlebihan

Konsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, terutama jika menjadi kebiasaan dalam jangka panjang. Risiko tersebut dapat bertambah ketika disertai kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, atau kurang aktivitas fisik.

Menghindari alkohol atau membatasi konsumsinya sesuai anjuran kesehatan dapat membantu menjaga tekanan darah. Bagi orang yang tidak mengonsumsi alkohol, tidak ada alasan untuk mulai meminumnya demi memperoleh manfaat kesehatan.



5. Stres Berkepanjangan

Stres dapat memicu peningkatan tekanan darah sementara melalui pelepasan hormon yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit. Jika berlangsung lama, stres juga dapat memengaruhi kebiasaan sehari-hari, seperti pola tidur, pilihan makanan, dan aktivitas fisik.

Meski stres tidak selalu menjadi penyebab langsung hipertensi kronis, mengelolanya tetap penting bagi kesehatan secara keseluruhan. Melakukan relaksasi, berolahraga, menjaga hubungan sosial, dan menyediakan waktu istirahat dapat membantu mengurangi tekanan psikologis.

6. Kurang Tidur dan Gangguan Tidur

Tidur yang tidak cukup atau berkualitas buruk dapat berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi. Saat tidur, tubuh menjalankan berbagai proses pemulihan, termasuk pengaturan tekanan darah. Gangguan tidur yang berulang dapat mengganggu proses tersebut.



Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah apnea tidur obstruktif, yaitu gangguan ketika pernapasan berhenti dan dimulai kembali berulang kali selama tidur. Kondisi ini dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi, terutama jika tidak ditangani.

Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Menjaga jadwal tidur teratur dan memeriksakan diri jika sering mendengkur keras atau terbangun seperti kehabisan napas dapat membantu menjaga kesehatan.

7. Faktor Usia dan Keturunan

Risiko hipertensi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia karena pembuluh darah dapat mengalami perubahan struktur dan elastisitas. Meski demikian, tekanan darah tinggi juga bisa dialami orang dewasa muda.

Riwayat keluarga turut berperan. Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan hipertensi dapat mempunyai risiko lebih tinggi, akibat kombinasi faktor genetik dan kebiasaan hidup yang serupa dalam keluarga.



Faktor usia dan keturunan memang tidak dapat diubah. Namun, risiko komplikasi tetap dapat dikurangi melalui pemeriksaan tekanan darah secara berkala dan penerapan pola hidup sehat.

8. Penyakit Tertentu dan Penggunaan Obat

Beberapa kondisi kesehatan, seperti penyakit ginjal kronis, diabetes, serta gangguan hormon tertentu, dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi. Dalam sejumlah kasus, hipertensi muncul sebagai akibat dari kondisi medis lain.

Penggunaan obat tertentu juga dapat memengaruhi tekanan darah, misalnya beberapa obat antinyeri golongan antiinflamasi nonsteroid, dekongestan untuk hidung tersumbat, dan obat kortikosteroid. Pengaruhnya bergantung pada jenis obat, dosis, durasi penggunaan, serta kondisi kesehatan seseorang.

Jangan menghentikan obat yang diresepkan secara sepihak. Jika tekanan darah meningkat setelah menggunakan obat tertentu, konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk menilai kemungkinan penyebab dan pilihan penanganannya.



Cara Mengurangi Risiko Hipertensi

Risiko tekanan darah tinggi dapat dikurangi melalui sejumlah kebiasaan sehat. Selain membatasi konsumsi garam, pilih makanan yang beragam, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang sehat. Kurangi makanan ultra-proses yang biasanya mengandung natrium tinggi, termasuk beberapa makanan instan, makanan kalengan, keripik, serta saus dan bumbu kemasan.

Lakukan aktivitas fisik secara teratur, jaga berat badan, hindari rokok, dan cukupi kebutuhan tidur. Mengelola stres juga dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Pemeriksaan tekanan darah tidak kalah penting karena hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala. Seseorang tidak sebaiknya menunggu munculnya sakit kepala atau pusing untuk memeriksakan tekanan darah. Diagnosis perlu didasarkan pada pengukuran yang tepat dan, bila diperlukan, pemeriksaan berulang oleh tenaga kesehatan.

Jika hasil pengukuran menunjukkan tekanan darah tinggi, konsultasikan dengan tenaga medis untuk mengetahui langkah yang sesuai. Perubahan gaya hidup dapat membantu, tetapi sebagian orang juga membutuhkan obat untuk mengendalikan tekanan darah.



Hipertensi bukan semata-mata akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan asin. Berat badan berlebih, kurang bergerak, merokok, gangguan tidur, faktor keturunan, usia, dan kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi risikonya. Dengan memahami berbagai faktor tersebut, seseorang dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih menyeluruh untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.