Kamis, 24 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Lidah Tidak Berubah, Tapi Rasa Makanan di Pesawat Bisa Berbeda

Tata - Thursday, 24 September 2026 | 09:08 AM

Background
Lidah Tidak Berubah, Tapi Rasa Makanan di Pesawat Bisa Berbeda

Makan di dalam pesawat terkadang memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan menyantap makanan yang sama ketika berada di darat. Ada makanan yang terasa lebih hambar, kurang beraroma, atau justru memiliki rasa yang terasa lebih kuat pada bagian tertentu.

Menariknya, perubahan tersebut bukan berarti lidah manusia tiba-tiba berubah ketika pesawat mengudara. Persepsi terhadap makanan merupakan hasil kerja berbagai indra, bukan hanya lidah. Aroma, tekstur, kondisi mulut, lingkungan sekitar, hingga suara yang terdengar dapat ikut memengaruhi bagaimana makanan dirasakan.

Karena itu, pengalaman makan di pesawat dapat terasa berbeda meskipun makanan yang dikonsumsi sebenarnya sama.

Lidah bukan satu-satunya yang menentukan rasa

Ketika berbicara tentang rasa makanan, orang biasanya langsung memikirkan lidah. Padahal, apa yang kita sebut sebagai "rasa" sebenarnya merupakan hasil gabungan dari beberapa informasi sensorik.

Lidah mendeteksi rasa dasar seperti manis, asin, asam, pahit, dan umami. Sementara itu, aroma makanan memberikan kontribusi besar terhadap apa yang kita kenali sebagai cita rasa.



Ketika makanan dikunyah, molekul aroma dapat bergerak dari mulut menuju saluran penciuman. Otak kemudian menggabungkan informasi dari pengecap dan penciuman tersebut sehingga muncul pengalaman rasa yang lebih lengkap.

Itulah sebabnya makanan bisa terasa berbeda ketika kemampuan mencium sedang terganggu, misalnya saat hidung tersumbat.

Udara kabin yang kering dapat memengaruhi pengalaman makan

Salah satu karakteristik lingkungan pesawat adalah kelembapan udara kabin yang relatif rendah. Penelitian pada penerbangan antarbenua melaporkan kelembapan relatif kabin dapat berada di kisaran 10–20 persen.

Udara yang kering dapat membuat hidung, tenggorokan, dan mulut terasa lebih kering. Kondisi tersebut dapat ikut memengaruhi kenyamanan saat makan dan pengalaman sensorik seseorang.

Namun, perlu dibedakan antara kondisi udara kabin dan klaim bahwa udara kering secara langsung "mematikan" indera pengecap. Perubahan pengalaman rasa merupakan hasil dari berbagai faktor yang bekerja secara bersamaan.



Aroma memiliki peran besar

Aroma merupakan bagian penting dari pengalaman menikmati makanan. Ketika kemampuan penciuman berkurang, makanan sering kali terasa kurang kompleks meskipun reseptor rasa di lidah masih bekerja.

Di pesawat, lingkungan kabin yang berbeda dari daratan dapat memengaruhi pengalaman penciuman. Udara yang kering dan kondisi kabin dapat membuat pengalaman terhadap aroma makanan terasa tidak sama seperti ketika makan di restoran atau di rumah.

Akibatnya, makanan yang biasanya memiliki aroma kuat bisa terasa lebih sederhana ketika disantap selama penerbangan.

Suara mesin ternyata juga bisa berpengaruh

Ini merupakan salah satu bagian yang cukup menarik. Pesawat memiliki tingkat kebisingan latar yang berbeda dari lingkungan makan pada umumnya.

Sebuah penelitian yang menguji pengaruh suara seperti kebisingan kabin pesawat menemukan bahwa suara dapat memengaruhi persepsi terhadap rasa tertentu. Dalam penelitian tersebut, intensitas rasa manis dinilai lebih rendah ketika peserta terpapar suara seperti kebisingan kabin, sedangkan persepsi terhadap umami justru meningkat.



Penelitian yang lebih baru pada 2024 juga menemukan bahwa simulasi kebisingan kabin dapat memengaruhi pemrosesan perhatian dan persepsi visual terhadap makanan. Peserta penelitian melaporkan sedikit ketidaknyamanan dan penurunan nafsu makan ketika terpapar kondisi suara kabin yang disimulasikan.

Dengan kata lain, suasana sekitar ketika makan ternyata dapat menjadi bagian dari pengalaman rasa.

Bukan berarti semua makanan pasti terasa hambar

Ada anggapan bahwa makanan di pesawat selalu terasa hambar karena kondisi penerbangan. Padahal, pengalaman setiap orang tidak selalu sama.

Jenis makanan, cara memasak, suhu makanan ketika disajikan, aroma, tekstur, bumbu, hingga ekspektasi penumpang dapat memengaruhi pengalaman makan.

Penelitian mengenai kualitas makanan dalam penerbangan juga menunjukkan bahwa faktor seperti suhu, nutrisi, penyajian, dan keberagaman menu berkaitan dengan respons positif konsumen terhadap makanan di pesawat.



Jadi, bukan hanya kondisi tubuh penumpang yang menentukan apakah makanan terasa enak atau tidak.

Mengapa makanan tertentu justru terasa lebih cocok di pesawat?

Jika rasa manis dapat terasa lebih lemah dalam kondisi kebisingan tertentu, makanan dengan cita rasa umami dapat terasa lebih menonjol bagi sebagian orang.

Hal ini membantu menjelaskan mengapa makanan yang memiliki karakter gurih mungkin terasa lebih menarik dibandingkan makanan yang mengandalkan rasa manis ketika disantap dalam lingkungan penerbangan.Dengan kata lain, suasana sekitar ketika makan ternyata dapat menjadi bagian dari pengalaman rasa.

Namun, temuan tersebut tidak berarti semua orang akan mengalami perubahan rasa yang sama. Persepsi rasa sangat individual dan dipengaruhi banyak faktor.

Cara penyajian juga ikut memainkan peran

Makanan tidak hanya dinilai berdasarkan rasa. Penampilan makanan, suhu, tekstur, aroma, dan tingkat familiaritas juga dapat memengaruhi pengalaman seseorang ketika menyantapnya.



Penelitian terhadap makanan dalam penerbangan menemukan bahwa cara penyajian dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap makanan dan sikap mereka terhadap hidangan tersebut.

Karena itu, pengalaman makan di pesawat merupakan kombinasi antara makanan itu sendiri dan lingkungan ketika makanan tersebut dikonsumsi.

Jadi, apakah lidah berubah saat naik pesawat?

Tidak. Lidah tidak tiba-tiba memiliki kemampuan pengecap yang berbeda hanya karena seseorang berada di ketinggian.

Yang berubah adalah lingkungan tempat kita makan dan cara otak menggabungkan berbagai informasi sensorik. Udara kabin yang kering, kondisi penciuman, kebisingan, suhu makanan, hingga suasana penerbangan dapat berkontribusi terhadap pengalaman rasa.

Inilah sebabnya makanan yang terasa biasa saja di darat bisa memberikan pengalaman berbeda ketika dimakan di dalam pesawat.

Kesimpulan:



Rasa makanan yang terasa berbeda saat berada di pesawat bukan semata-mata karena lidah mengalami perubahan. Pengalaman rasa merupakan hasil kerja sama antara pengecap, penciuman, otak, serta berbagai rangsangan dari lingkungan.

Kondisi kabin yang kering dan kebisingan penerbangan menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi pengalaman sensorik saat makan. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa suara seperti kebisingan kabin dapat mengubah persepsi terhadap rasa manis dan umami.

Jadi, jika makanan favorit terasa sedikit berbeda ketika disantap di atas pesawat, bisa jadi bukan resepnya yang berubah—melainkan lingkungan di sekitar kita yang membuat otak menerima pengalaman rasa dengan cara yang berbeda.