Lalat Bukan Sekadar Mengganggu, Hewan Ini Bisa Membawa Berbagai Kuman
Laila - Saturday, 10 October 2026 | 12:00 PM


Lalat Bukan Sekadar Mengganggu, Hewan Ini Bisa Membawa Berbagai Kuman
Lalat merupakan serangga yang mudah ditemukan di lingkungan rumah, pasar, tempat makan, hingga area pembuangan sampah. Kehadirannya sering dianggap mengganggu karena terbang di sekitar manusia dan hinggap pada makanan. Namun, di balik ukurannya yang kecil, lalat juga berpotensi menyebarkan mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Lalat rumah (Musca domestica) sering ditemukan di tempat yang memiliki banyak sumber makanan dan bahan organik. Serangga ini dapat berpindah dari sampah, kotoran hewan, atau bahan yang membusuk menuju meja makan dan makanan yang terbuka.
Perpindahan tersebut memungkinkan mikroorganisme menempel pada tubuh lalat, termasuk kaki dan bagian mulutnya. Ketika lalat kembali hinggap pada makanan, mikroorganisme yang dibawanya berpotensi berpindah ke makanan dan masuk ke tubuh manusia saat makanan dikonsumsi.
Bagaimana Lalat Bisa Membawa Kuman?
Lalat memiliki kebiasaan mencari makanan di berbagai tempat, termasuk lingkungan yang tidak higienis. Saat hinggap di sampah atau kotoran, tubuhnya dapat terpapar bakteri dan mikroorganisme lainnya.
Mikroorganisme tersebut dapat menempel pada permukaan tubuh lalat. Selain itu, lalat juga dapat memindahkan kontaminan melalui cairan pencernaan atau kotoran yang dikeluarkannya.
Ketika lalat hinggap pada makanan, sebagian mikroorganisme berpotensi berpindah ke permukaan makanan tersebut. Risiko kontaminasi dapat meningkat jika makanan dibiarkan terbuka dalam waktu lama dan berada di lingkungan yang banyak lalat.
Meski demikian, tidak setiap lalat membawa patogen berbahaya. Risiko penularan bergantung pada lingkungan yang dikunjungi lalat, jenis mikroorganisme yang dibawanya, serta kondisi kebersihan makanan dan tempat pengolahan.
Jenis Kuman yang Dapat Disebarkan Lalat
Lalat rumah diketahui dapat membawa beragam mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan penyakit. Beberapa di antaranya berkaitan dengan gangguan pada sistem pencernaan.
Salah satu contohnya adalah bakteri Salmonella, yang dapat menyebabkan salmonellosis. Infeksi ini dapat menimbulkan diare, demam, kram perut, dan mual. Bakteri tersebut umumnya menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Selain itu, Escherichia coli atau E. coli juga dapat ditemukan di lingkungan yang tercemar tinja. Sebagian jenis bakteri ini tidak berbahaya, tetapi jenis tertentu dapat menyebabkan diare dan gangguan pencernaan.
Lalat juga berpotensi membawa bakteri lain, seperti Shigella, yang dapat menyebabkan shigellosis. Penyakit ini dapat menimbulkan diare, demam, dan sakit perut, bahkan pada kondisi tertentu disertai tinja berdarah.
Keberadaan mikroorganisme tersebut pada lalat tidak berarti setiap kontak pasti menyebabkan penyakit. Namun, kemungkinan kontaminasi menjadi alasan penting untuk menjaga makanan tetap tertutup dan lingkungan tetap bersih.
Mengapa Makanan yang Dihinggapi Lalat Perlu Diwaspadai?
Makanan yang terbuka lebih mudah terpapar serangga dan kontaminan dari lingkungan. Ketika lalat hinggap di atasnya, mikroorganisme yang menempel pada tubuh serangga berpotensi berpindah ke permukaan makanan.
Kontaminasi tidak selalu dapat dilihat atau dicium. Makanan mungkin tetap terlihat segar, tetapi belum tentu bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit.
Karena itu, sebaiknya makanan disimpan dalam wadah tertutup dan tidak dibiarkan terlalu lama di tempat terbuka. Jika makanan diduga terkontaminasi, terutama setelah terpapar lalat di lingkungan yang kotor, langkah paling aman adalah tidak mengonsumsinya.
Memanaskan kembali makanan juga tidak selalu menjadi solusi untuk semua jenis kontaminasi, terutama jika makanan telah disimpan dalam kondisi yang tidak aman atau mengandung racun tertentu yang tahan panas.
Cara Mencegah Lalat Menyebarkan Kuman di Rumah
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kontaminasi akibat lalat.
Pertama, tutup makanan menggunakan tudung saji atau simpan di dalam wadah yang rapat. Cara ini membantu mengurangi kemungkinan lalat hinggap langsung pada makanan.
Kedua, buang sampah secara teratur dan gunakan tempat sampah yang memiliki penutup. Sisa makanan dan bahan organik yang dibiarkan menumpuk dapat menarik lalat untuk datang dan berkembang biak.
Ketiga, bersihkan meja makan, permukaan dapur, serta peralatan memasak secara rutin. Pastikan tidak ada sisa makanan yang tertinggal, terutama di area yang sulit dijangkau.
Keempat, jaga kebersihan saluran pembuangan dan area tempat sampah. Pasang kasa pada jendela atau gunakan penghalang lain agar lalat tidak mudah masuk ke dalam rumah.
Selain itu, biasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyiapkan makanan dan sebelum makan. Bahan makanan juga perlu dicuci dengan air bersih, sedangkan peralatan yang digunakan untuk mengolah makanan mentah harus dibersihkan sebelum dipakai kembali.
Waspadai Gejala Gangguan Pencernaan
Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi mikroorganisme dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan. Gejala yang mungkin muncul meliputi diare, mual, muntah, kram perut, dan demam.
Namun, gejala tersebut tidak selalu disebabkan oleh lalat karena berbagai jenis kontaminasi makanan dapat menimbulkan keluhan serupa. Jika diare berlangsung lama, muncul darah pada tinja, terjadi demam tinggi, atau terdapat tanda dehidrasi seperti urine berkurang dan pusing, segera cari pertolongan medis.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh yang lemah perlu lebih berhati-hati terhadap penyakit yang ditularkan melalui makanan.
Menjaga Kebersihan Menjadi Langkah Pencegahan Utama
Lalat memang merupakan bagian dari lingkungan, tetapi keberadaannya di sekitar makanan perlu dikendalikan. Serangga ini dapat memindahkan mikroorganisme dari tempat kotor ke permukaan yang digunakan manusia, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi.
Menjaga kebersihan rumah, mengelola sampah dengan benar, menutup makanan, dan menerapkan kebiasaan mencuci tangan merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko tersebut.
Dengan memperhatikan kebersihan makanan dan lingkungan, risiko penyebaran kuman dapat ditekan sehingga kesehatan keluarga lebih terjaga.
Next News

Mitos atau Fakta, Makan Wortel Bisa Membuat Penglihatan Lebih Tajam?
4 hours ago

Mengapa Kita Kadang Merasa Pernah Mengalami Kejadian yang Sama?
4 hours ago

Tubuh Tersentak Saat Hampir Tidur, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
4 hours ago

Kupu-Kupu Bisa Merasakan Rasa dengan Kakinya, Begini Cara Kerjanya
4 hours ago

Gurita Bisa Mengubah Warna Tubuh dalam Sekejap, Bagaimana Caranya?
4 hours ago

Buah yang Disimpan di Kulkas Bisa Berubah Rasa, Apa Penyebabnya?
4 hours ago

Bau Mulut Tidak Hilang Meski Sudah Sikat Gigi, Apa Kemungkinan Penyebabnya?
4 hours ago

Ada Parasit yang Hidup di Air, Ini Risiko Jika Air Terkontaminasi
4 hours ago

Penyakit yang Gejalanya Mirip Masuk Angin, tetapi Bisa Lebih Serius
4 hours ago

Mengenal Toksoplasma, Parasit yang Sering Dikaitkan dengan Kucing
4 hours ago





