Rabu, 7 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Satu Hari Dibagi Menjadi 24 Jam? Ini Sejarah di Baliknya

Laila - Wednesday, 07 October 2026 | 09:11 AM

Background
Kenapa Satu Hari Dibagi Menjadi 24 Jam? Ini Sejarah di Baliknya

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa satu hari terdiri dari 24 jam, bukan 10, 20, atau 30 jam? Pembagian waktu yang digunakan sehari-hari ternyata memiliki sejarah panjang yang telah berkembang sejak ribuan tahun lalu.

Sistem 24 jam yang dikenal saat ini tidak muncul secara tiba-tiba. Pembagian tersebut merupakan hasil perkembangan cara manusia mengamati pergerakan Matahari, menghitung waktu, hingga menciptakan sistem pengukuran yang lebih teratur.

Berawal dari Peradaban Kuno

Salah satu pengaruh penting dalam pembagian waktu berasal dari bangsa Mesir Kuno. Mereka telah mengembangkan cara untuk membagi periode siang dan malam menjadi beberapa bagian.

Bangsa Mesir Kuno memanfaatkan posisi Matahari pada siang hari dan pengamatan terhadap bintang pada malam hari untuk membantu menentukan waktu.

Secara bertahap, periode siang dan malam dikaitkan dengan pembagian menjadi 12 bagian. Dari pembagian tersebut kemudian berkembang konsep 24 bagian dalam satu hari.



Namun, panjang setiap bagian waktu pada masa itu belum tentu sama. Pada musim tertentu, siang hari bisa lebih panjang dibandingkan malam hari sehingga durasi satu bagian waktu dapat berbeda.

Mengapa Angka 12 Digunakan?

Angka 12 memiliki peran penting dalam sejarah pembagian waktu. Salah satu alasannya berkaitan dengan sistem bilangan yang digunakan oleh masyarakat kuno.

Angka 12 mudah dibagi menjadi beberapa bagian, seperti 2, 3, 4, dan 6. Kondisi tersebut membuat angka ini praktis digunakan untuk berbagai keperluan pengukuran.

Penggunaan angka 12 kemudian juga terlihat dalam berbagai sistem lainnya, termasuk 12 bulan dalam satu tahun dan pembagian angka pada jam analog.

Pengaruh Bangsa Babilonia

Selain Mesir Kuno, bangsa Babilonia turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan sistem pengukuran waktu.



Mereka dikenal menggunakan sistem bilangan berbasis 60 atau disebut sistem seksagesimal. Sistem ini kemudian berpengaruh terhadap pembagian satu jam menjadi 60 menit dan satu menit menjadi 60 detik.

Angka 60 sendiri memiliki banyak faktor pembagi. Hal tersebut membuatnya praktis untuk digunakan dalam berbagai perhitungan dan pembagian.

Pengaruh sistem tersebut bahkan masih bertahan hingga sekarang. Ketika seseorang melihat jam, satu jam masih terdiri dari 60 menit dan satu menit terdiri dari 60 detik.

Dari Matahari hingga Jam Mekanis

Pada masa lalu, manusia belum memiliki jam digital maupun jam mekanis seperti sekarang. Posisi Matahari dan bintang menjadi petunjuk penting untuk mengetahui waktu.

Berbagai alat kemudian dikembangkan untuk membantu mengukur waktu, mulai dari jam Matahari hingga jam air.



Perkembangan jam mekanis di Eropa pada abad pertengahan kemudian membuat pengukuran waktu menjadi semakin teratur. Pembagian jam, menit, dan detik perlahan menjadi lebih konsisten.

Mengapa Sekarang Satu Jam Selalu Sama?

Pada sistem kuno, panjang satu jam tidak selalu sama karena bergantung pada panjang siang dan malam. Namun, sistem modern menetapkan durasi setiap jam secara seragam.

Saat ini, satu hari dibagi menjadi 24 jam, sementara setiap jam terdiri dari 60 menit dan setiap menit terdiri dari 60 detik.

Dalam ilmu pengetahuan modern, pengertian detik bahkan tidak lagi hanya bergantung pada pergerakan Matahari. Satuan detik ditentukan berdasarkan fenomena atom yang sangat stabil sehingga waktu dapat diukur dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi.

Dengan demikian, pembagian 24 jam yang digunakan sehari-hari merupakan hasil perjalanan panjang manusia dalam memahami dan mengukur waktu.



Jadi, ketika melihat jam menunjukkan pukul 12.00, angka tersebut sebenarnya merupakan bagian dari sistem pengukuran yang memiliki sejarah panjang. Konsep 24 jam merupakan warisan dari berbagai perkembangan peradaban, mulai dari pengamatan terhadap langit hingga teknologi pengukuran waktu modern.