Kenapa Kita Bisa Merasa Pernah Mengalami Kejadian yang Sebenarnya Baru Terjadi?
Laila - Monday, 31 August 2026 | 12:00 PM


Pernah Merasa Hidup Lo Nge-Glitch? Rahasia di Balik Kenapa Kita Sering Dejavu
Bayangin deh, lo lagi asyik nongkrong di kafe baru yang baru aja buka minggu lalu. Lo baru pertama kali menginjakkan kaki di sana, memesan segelas kopi susu gula aren yang rasanya standar-standar aja, dan tiba-tiba—BAM! Ada perasaan aneh yang nyetrum di otak lo. Lo merasa yakin banget kalau momen ini, di posisi duduk ini, dengan suara tawa mbak-mbak di meja sebelah dan aroma kopi yang agak gosong ini, udah pernah terjadi sebelumnya. Padahal secara logika, itu nggak mungkin banget.
Selamat, lo baru saja mengalami apa yang disebut dunia medis dan psikologi sebagai Déjà Vu. Istilah keren dari bahasa Prancis ini secara harfiah artinya "sudah pernah melihat". Rasanya emang agak serem, kayak lo tiba-tiba jadi pemeran utama di film fiksi ilmiah atau berasa punya kekuatan cenayang yang bisa ngelihat masa depan. Tapi tenang, lo nggak lagi masuk ke dalam Matrix kok, dan lo juga nggak perlu buru-buru daftar jadi asistennya Mbak Rara pawang hujan.
Bukan Sihir, Tapi Otak Lo Lagi "Typo"
Banyak orang suka mengaitkan dejavu sama hal-hal mistis atau teori konspirasi yang bikin dahi berkerut. Ada yang bilang itu sisa memori dari kehidupan di masa lalu (past life), atau bukti kalau kita hidup di dunia paralel yang jalurnya lagi tabrakan. Teori ini emang asyik banget dibahas sambil ngerokok atau ngopi pas malem Jumat, tapi sains punya penjelasan yang jauh lebih masuk akal walaupun agak kurang romantis.
Secara garis besar, dejavu itu sebenernya adalah "kesalahan teknis" atau glitch kecil di otak kita. Bayangin otak lo itu kayak komputer canggih yang lagi jalanin ribuan aplikasi sekaligus. Kadang, ada satu kabel data yang agak kendor atau ada proses buffering yang telat sepersekian detik. Nah, itulah dejavu.
Salah satu teori yang paling banyak disetujui para ahli adalah teori Split Perception. Jadi gini, ketika lo melihat sesuatu, otak lo biasanya memproses informasi itu dalam satu kesatuan waktu. Tapi dalam kasus dejavu, perhatian lo terbagi. Mata lo mungkin udah menangkap pemandangan di depan, tapi otak lo lagi bengong atau mikirin cicilan pinjol. Begitu otak lo "sadar" dan fokus kembali, pemandangan tadi diproses ulang sebagai informasi baru. Masalahnya, sisa informasi yang "setengah matang" tadi udah terlanjur masuk ke memori jangka pendek. Hasilnya? Otak lo merasa kejadian itu baru saja terjadi DAN sudah pernah terjadi di saat yang bersamaan.
Kenapa Anak Muda Lebih Sering Ngalamin?
Usut punya usut, dejavu ini ternyata lebih sering mampir ke kehidupan anak muda atau orang-orang yang mobilitasnya tinggi. Kalau lo sering ngerasa dejavu, bisa jadi karena lo emang lagi produktif banget atau justru lagi stres berat. Penelitian menunjukkan kalau orang yang sering traveling atau nonton banyak film cenderung lebih sering ngalamin dejavu. Kenapa? Karena mereka punya bank data visual yang sangat kaya di kepalanya.
Kadang, otak kita itu agak males. Saat lo masuk ke sebuah toko buku di kota yang belum pernah lo datangi, otak lo bakal nyari kemiripan antara toko itu sama tempat-tempat yang pernah lo kunjungi sebelumnya. Begitu ada kemiripan sedikit aja—misal tata letak raknya atau warna karpetnya—otak lo langsung narik kesimpulan instan: "Eh, gue kayaknya pernah ke sini deh." Ini namanya Memory Mismatch. Otak lo berusaha mencocokkan situasi sekarang dengan memori lama yang mirip, tapi gagal nemu yang pas, akhirnya malah bikin perasaan familiar yang palsu.
Selain itu, faktor kelelahan juga ngaruh banget. Pas lo kurang tidur karena begadang ngerjain tugas atau maraton series, koordinasi antar bagian otak lo jadi agak berantakan. Bagian otak yang bertugas buat mengenali situasi dan bagian yang menyimpan memori jadi nggak sinkron. Ibarat lagi main game online, lo lagi kena lag parah.
Efek Dopamin dan Rahasia Rhinal Cortex
Mari kita bedah dikit bagian dalemnya. Ada area di otak kita yang namanya Rhinal Cortex. Area ini fungsinya buat memicu perasaan "familiar" atau rasa kenal terhadap sesuatu. Terus ada Hippocampus yang tugasnya nyatet memori detail kayak kapan, di mana, dan sama siapa. Nah, dejavu terjadi ketika Rhinal Cortex lo tiba-tiba aktif (alias "nyala" sendiri) tanpa ada perintah dari Hippocampus.
Jadinya, lo ngerasa kenal banget sama suasananya (karena Rhinal Cortex-nya aktif), tapi lo nggak bisa inget kapan tepatnya kejadian itu terjadi (karena Hippocampus-nya emang nggak punya datanya). Ini tuh rasanya kayak ketemu orang di jalan, lo yakin banget kenal dia, tapi lo lupa namanya siapa, temen sekolah mana, atau jangan-jangan cuma sekadar mirip sama mantan yang udah lo blokir kontaknya.
Beberapa ahli juga menyebutkan peran dopamin. Zat kimia yang bikin kita seneng ini ternyata punya level yang lebih tinggi di otak anak muda. Dopamin ini disinyalir bisa bikin saraf-saraf di otak jadi lebih "sensitif" buat ngirim sinyal-sinyal random yang akhirnya memicu sensasi dejavu tersebut. Jadi, kalau lo sering dejavu, anggep aja otak lo lagi punya stok energi yang meluap-luap sampai tumpah-tumpah.
Harus Khawatir Nggak Sih?
Singkatnya: Nggak perlu. Dejavu itu hal yang sangat normal dan dialami oleh sekitar 60% sampai 70% populasi manusia di dunia. Justru kalau lo nggak pernah ngerasa dejavu sama sekali, mungkin lo malah kurang asupan petualangan atau kurang imajinasi (canda, ya!). Dejavu itu cuma pengingat kalau otak kita, secanggih apa pun dia, tetap bisa bikin kesalahan receh yang lucu.
Kecuali kalau dejavu lo datang barengan sama pusing yang hebat, pingsan, atau kejang-kejang. Kalau itu mah bukan dejavu biasa, mending langsung gas ke dokter karena bisa jadi itu tanda adanya gangguan saraf seperti epilepsi lobus temporal. Tapi kalau cuma sekadar perasaan "Eh, kayaknya tadi gue udah pernah denger lagu ini di posisi yang sama," ya itu mah cuma intermeso dari otak lo aja.
Kesimpulannya, dejavu adalah salah satu misteri kecil yang bikin hidup jadi sedikit lebih menarik. Itu adalah momen di mana sains dan perasaan "magis" ketemu di satu titik. Jadi, lain kali kalau lo ngerasa hidup lo lagi nge-glitch atau ngulang adegan yang sama, nikmatin aja. Mungkin itu cara otak lo buat bilang kalau hidup lo itu seru dan penuh warna, saking penuh warnanya sampai otak lo bingung sendiri mau naruh memorinya di mana.
Lagian, bukannya asyik ya kalau kita merasa hidup ini punya keterikatan yang lebih dalam dari sekadar rutinitas bangun-kerja-tidur? Dejavu bikin kita sejenak berhenti dan mikir, "Wah, unik juga ya cara kerja kepala gue." Jadi, santai aja, lo nggak lagi dirasuki atau masuk dimensi lain. Lo cuma lagi manusiawi aja.
Next News

Kenapa Ikan Tidak Berkedip seperti Manusia?
5 hours ago

Mengapa Cicak Bisa Berjalan di Dinding Tanpa Jatuh?
5 hours ago

Kenapa Anak Sering Bertanya "Kenapa"? Ternyata Ini Bagian dari Proses Belajar
5 hours ago

Kenapa Adonan Kue Bisa Bantat? Kesalahan Kecil Ini Sering Terjadi
5 hours ago

Kenapa Santan Bisa Pecah Saat Dimasak? Ini PenyebabnyaKenapa Santan Bisa Pecah Saat Dimasak? Ini Penyebabnya
5 hours ago

Kenapa Menunggu Terasa Lebih Lama daripada Saat Bersantai?
5 hours ago

Misteri di Balik Wangi dan Gurihnya Tempe, Ternyata Ini Rahasia Rasa Ikoniknya
an hour ago

Kuda Laut Jantan Bisa Hamil, Bagaimana Proses Unik Reproduksinya?
2 hours ago

Kincung dan Kecombrang, Apakah Sebenarnya Tanaman yang Sama? Ini Penjelasannya
2 hours ago

Fenomena Risol Mayo, dari Jajanan Rumahan hingga Jadi Kuliner Favorit di Media Sosial
3 hours ago





