Minggu, 16 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Jajanan Pasar yang Tetap Bertahan di Tengah Makanan Modern

Laila - Saturday, 15 August 2026 | 12:00 AM

Background
Jajanan Pasar yang Tetap Bertahan di Tengah Makanan Modern

Menolak Punah: Mengapa Jajanan Pasar Tetap Jadi Juara di Hati Kita, Meski Digempur Dessert Viral

Mari kita jujur sejenak. Di era sekarang, pilihan makanan kita itu sudah kayak algoritma TikTok: cepat berubah, penuh warna, dan kadang bikin dompet menangis. Hari ini kita heboh ngantre Croffle, besoknya pindah ke Mochi Daifuku, lusa mungkin ada lagi roti dari Korea yang namanya susah dieja. Tapi, di tengah gempuran makanan kekinian yang estetikanya selangit itu, ada satu golongan makanan yang posisinya nggak pernah goyah. Ya, apalagi kalau bukan jajanan pasar.

Coba deh ingat-ingat. Sesering apa pun kamu nongkrong di cafe yang kopinya seharga cicilan motor, pasti ada momen di mana lidahmu kangen banget sama sensasi kenyal klepon atau gurihnya lemper. Ada daya magis tersendiri saat kita melihat baki plastik berisi barisan kue berwarna-warni di pasar tradisional atau di depan minimarket saat pagi buta. Jajanan pasar bukan cuma soal rasa, tapi soal memori dan ketahanan budaya yang luar biasa.

Si Hijau yang Meledak di Mulut

Kalau kita bicara soal MVP (Most Valuable Player) di dunia jajanan pasar, nama Klepon pasti masuk daftar teratas. Si bola hijau bertabur kelapa ini adalah definisi "surprise" yang sebenarnya. Kamu nggak butuh teknik fine dining buat menikmatinya, cukup masukkan satu butir utuh ke mulut, gigit, dan boom! Cairan gula merahnya meledak, membasuh lidah dengan rasa manis yang nggak lebay.

Banyak kafe kekinian mencoba "memodernisasi" klepon jadi cake atau minuman latte, tapi rasanya tetap beda. Ada sesuatu yang nggak bisa digantikan dari tekstur tepung ketan yang pas—nggak terlalu lembek tapi juga nggak keras kayak karet penghapus. Di sinilah letak kekuatannya: kesederhanaan. Jajanan pasar nggak butuh garnish emas atau piring keramik mahal buat dibilang enak. Cukup dibungkus plastik mika atau daun pisang, dia sudah punya kelasnya sendiri.

Geng Gurih yang Bikin Nagih

Nggak cuma yang manis, jajanan pasar kategori asin atau gurih juga punya basis fans yang militan. Ambil contoh Lemper. Si nasi ketan isi ayam ini adalah penyelamat perut di berbagai situasi. Rapat kantor? Ada lemper. Arisan tetangga? Ada lemper. Kondangan? Apalagi. Lemper itu kayak sahabat karib yang selalu ada saat kita butuh ganjalan perut yang lumayan padat tapi nggak seberat makan nasi padang.



Selain lemper, jangan lupakan Risol Mayo atau Pastel. Memang sih, Risol Mayo itu sudah agak "blasteran" dengan sentuhan modern, tapi dia tetap dianggap warga lokal di lapak jajanan subuh. Ada kepuasan tersendiri saat kita menggigit kulit risoles yang renyah lalu bertemu dengan isian yang lumer. Ini adalah jenis kenyamanan yang nggak bisa diberikan oleh sepiring pasta carbonara sekalipun. Harganya? Paling cuma dua ribu sampai lima ribu perak. Murah meriah, tapi bahagia yang didapat itu nyata, bukan sekadar konten buat Instagram Story.

Adaptasi di Tengah Zaman

Kenapa jajanan pasar tetap bertahan? Menurut saya, karena mereka itu adaptif. Para penjual jajanan pasar sekarang sudah mulai "melek" pasar. Lihat saja bagaimana tampilan jajanan pasar di mal-mal besar atau di pasar modern BSD. Mereka dikemas cantik, kebersihannya dijaga, tapi resepnya tetap autentik.

Bahkan sekarang ada tren "Jajan Pasar Platting" buat acara-acara mewah. Kue talam, dadar gulung, dan nagasari ditata sedemikian rupa sampai terlihat sangat artistik. Ini membuktikan kalau makanan tradisional kita itu nggak kampungan. Dia cuma butuh sedikit sentuhan presentasi buat bisa bersaing di panggung global. Kita juga melihat banyak anak muda yang mulai bangga beli jajan pasar buat dibawa ke kantor sebagai camilan bareng temen-temen setim. Istilahnya, local pride sedang tinggi-tingginya.

Filosofi dalam Balutan Daun Pisang

Satu hal yang sering kita lupakan adalah filosofi di balik makanan ini. Membungkus makanan dengan daun pisang bukan cuma soal ramah lingkungan, tapi soal aroma. Ada wangi khas yang keluar saat makanan hangat bersentuhan dengan daun pisang yang layu. Itu adalah aroma "rumah".

Di balik sepotong Lapis Legit atau Kue Cucur, ada proses pembuatan yang membutuhkan kesabaran luar biasa. Membuat lapis legit itu butuh ketelatenan melapis satu per satu adonan. Ini adalah antitesis dari budaya fast food yang serba instan. Jajanan pasar mengajarkan kita kalau hal-hal baik itu butuh waktu dan dedikasi. Mungkin itulah sebabnya rasanya tetap "ngangenin" sampai sekarang.



Penutup: Tetap Jadi Primadona

Pada akhirnya, tren makanan akan terus datang dan pergi. Kita mungkin akan bosan dengan segala sesuatu yang serba matcha, serba truffle, atau serba salted egg. Tapi kita nggak akan pernah bosan dengan manisnya getuk atau kenyalnya cenil. Jajanan pasar adalah bagian dari identitas kita yang paling jujur.

Jadi, besok pagi kalau kamu lewat di depan lapak kue subuh atau melihat ibu-ibu penjual jajan pasar di pinggir jalan, jangan ragu buat mampir. Beli beberapa bungkus, bagikan ke teman kantormu, dan rasakan betapa makanan sesederhana itu bisa bikin suasana jadi lebih cair. Jajanan pasar bukan cuma makanan yang bertahan hidup, tapi mereka adalah pemenang yang tetap rendah hati di tengah kebisingan dunia kuliner modern.

Mari kita pastikan mereka tetap ada, bukan cuma di buku sejarah, tapi tetap eksis di piring-piring kita setiap hari. Karena sejujurnya, hidup ini sudah cukup rumit, jangan biarkan urusan camilan jadi makin ribet. Cukup sepotong Dadar Gulung, dan dunia terasa baik-baik saja.

Tags