Minggu, 30 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dunia Makin Digital, Kebiasaan Lama Ini Perlahan Menghilang

Laila - Sunday, 30 August 2026 | 10:00 AM

Background
Dunia Makin Digital, Kebiasaan Lama Ini Perlahan Menghilang

Dunia Makin Digital, Kebiasaan Lama Ini Perlahan Menghilang

Coba deh ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu ngerasain sensasi jari belepotan tinta hitam gara-gara baca koran pagi sambil nyeruput kopi? Atau kapan terakhir kali kamu beneran panik karena nyasar dan terpaksa nanya ke orang di pinggir jalan, bukan malah melototin layar Google Maps yang kadang bikin kita makin tersesat di gang sempit?

Zaman sekarang, hidup itu rasanya sudah masuk ke mode otomatis. Semuanya serba sat-set, serba aplikasi. Kita hidup di masa di mana jempol lebih sibuk daripada mulut. Perubahan ini emang bikin hidup jadi praktis banget, nggak bisa dipungkiri. Tapi, kalau kita mau jujur dan sedikit bernostalgia, ada banyak ritual kecil bin ajaib yang perlahan-lahan menguap ditelan algoritma. Kebiasaan-kebiasaan yang dulu terasa normal, sekarang malah kelihatan antik, atau malah aneh buat anak-anak Gen Z yang lahir sudah megang iPad.

Ritual Menunggu yang Kini Jadi Barang Langka

Satu hal yang paling kentara hilang adalah "seni menunggu". Dulu, kalau mau dengerin lagu favorit, kita harus standby di depan radio, nungguin penyiar muter lagu itu, sambil jari udah siap di tombol 'Record' tape compo buat direkam ke kaset pita. Kalau si penyiar malah ngomong di tengah lagu, rasanya mau marah tapi ya nggak bisa ngapa-ngapain. Sekarang? Tinggal buka Spotify, cari judulnya, kelar. Nggak ada lagi perjuangan.

Begitu juga soal komunikasi. Ingat zaman SMS masih mahal dan karakternya terbatas? Kita dulu kreatif banget nyingkat kata supaya nggak kena biaya dua SMS. "Lagi di mana?" berubah jadi "Lg dmn?". Sekarang, dengan adanya WhatsApp, kita bisa kirim pesan sepanjang novel tanpa takut pulsa habis. Tapi anehnya, meski komunikasi makin gampang, rasa "berharga"-nya pesan itu malah berkurang. Dulu, dapet balesan SMS dari gebetan itu rasanya kayak menang lotre. Sekarang, dapet chat cuma dibaca doang alias di-read, rasanya malah bikin kena mental.

Selamat Tinggal Buku Alamat dan Peta Lipat

Dulu, setiap rumah pasti punya buku alamat kecil di deket telepon kabel atau Yellow Pages yang tebalnya minta ampun. Di sana tersimpan rahasia koneksi seluruh keluarga. Sekarang, semua kontak sudah tersinkronisasi di cloud. Kalau HP hilang, dunia serasa kiamat karena kita bahkan nggak hafal nomor telepon ibu sendiri.



Nasib yang sama juga menimpa peta lipat. Kalau kamu pernah ngerasain ribetnya ngebuka peta kertas berukuran meja makan di dalam mobil pas lagi mudik, selamat, kamu sudah senior. Dulu, kemampuan membaca navigasi manual adalah skill bertahan hidup. Sekarang, kita tinggal manja ngikutin suara Mbak-mbak GPS yang seringnya nyuruh kita "belok ke arah barat" padahal kita nggak tahu barat itu sebelah mana tanpa lihat kompas.

Dompet yang Makin Tipis (Bukan Karena Miskin)

Kebiasaan bawa uang tunai segepok di dompet juga mulai hilang. Dulu, kalau mau bayar apa pun, kita harus ribet nyari kembalian atau malah dikasih permen sama kasir karena mereka nggak punya receh. Sekarang, fenomena cashless society benar-benar mengubah cara kita bertransaksi. Tinggal scan QRIS, masukin nominal, klik bayar. Beres.

Efek sampingnya? Kita jadi nggak sadar kalau saldo makin menipis. Dulu, ngelihat lembaran uang di dompet berkurang itu ada efek psikologisnya—kita jadi lebih ngerem belanja. Sekarang, angka-angka digital itu seringkali terasa abstrak sampai tiba-tiba kita sadar kalau saldo tinggal buat beli gorengan di akhir bulan. Belum lagi soal kebiasaan "ngumpulin receh" di celengan ayam yang makin nggak relevan karena jarang ada yang pegang uang koin lagi.

Momen yang Tak Lagi "Tercetak"

Satu lagi yang paling terasa hilang adalah ritual mencetak foto. Ingat masa-masa kita harus bawa roll film ke tukang cetak foto dan nunggu tiga hari buat tahu hasilnya bagus atau malah blur semua? Ada rasa deg-degan dan kejutan di sana. Foto-foto itu kemudian disusun rapi di album fisik yang bisa kita pegang dan cium bau kertasnya.

Sekarang, kita bisa ambil 100 foto dalam satu menit hanya untuk dapet satu pose yang "Instagram-able". Sisanya? Teronggok jadi sampah digital di memori HP atau disimpan di Google Photos yang jarang banget kita buka lagi. Foto nggak lagi jadi benda fisik yang kita simpan, tapi jadi konten sementara yang bakal tenggelam oleh postingan-postingan baru besok pagi.



Apakah Kita Kehilangan Sesuatu yang Berharga?

Dunia digital emang menawarkan efisiensi yang nggak masuk akal. Kita nggak perlu lagi antre di bank, nggak perlu lagi nunggu tukang pos, dan nggak perlu lagi repot-repot nyari informasi karena semuanya ada di ujung jari. Tapi, di balik semua kemudahan itu, ada "human touch" atau sentuhan manusiawi yang perlahan hilang.

Ada kehangatan dalam setiap proses yang sulit. Ada cerita di balik perjuangan mencari alamat tanpa GPS. Ada kenangan dalam setiap lembar foto yang menguning. Kebiasaan-kebiasaan lama itu mungkin memang menghilang karena tuntutan zaman, tapi bukan berarti kita nggak boleh sesekali menengok ke belakang.

Jadi, meskipun sekarang semua serba digital, nggak ada salahnya sesekali kamu beli buku fisik dan nikmatin aromanya, atau sengaja jalan-jalan tanpa liat maps biar kamu bisa beneran ngerasain lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, hidup bukan cuma soal seberapa cepat kita sampai ke tujuan, tapi soal seberapa banyak cerita yang kita dapetin sepanjang jalan. Dunia boleh makin digital, tapi jangan sampai perasaan kita ikut-ikutan jadi digital alias sekadar nol dan satu tanpa makna.

Tags