Senin, 10 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bukan Malas: Ini yang Terjadi pada Otak Saat Seseorang Sulit Memulai Aktivitas

Laila - Monday, 10 August 2026 | 12:00 PM

Background
Bukan Malas: Ini yang Terjadi pada Otak Saat Seseorang Sulit Memulai Aktivitas

Mager Bukan Berarti Malas: Mengapa Otak Kita Kadang Ngadat Saat Mau Mulai Kerja?

Pernah nggak sih kamu duduk di depan laptop, niatnya mau ngerjain tugas atau kerjaan kantor yang tenggat waktunya tinggal menghitung jam, tapi tangan malah refleks buka TikTok? Padahal dalam hati udah teriak-teriak, "Ayo gerak! Kerjain sekarang!" Tapi badan rasanya seberat beton dan jempol lebih tertarik scrolling konten nggak jelas selama tiga jam ke depan. Ujung-ujungnya, kamu menyalahkan diri sendiri, merasa jadi manusia paling pemalas sedunia, dan besoknya diulang lagi.

Seringkali, orang tua atau lingkungan sekitar dengan gampangnya melabeli kondisi ini sebagai "malas". Padahal, kalau kita mau jujur, rasa malas dan kesulitan memulai aktivitas itu adalah dua hal yang berbeda. Kalau malas, biasanya kita memang menikmati waktu santai tanpa rasa bersalah. Tapi kalau yang kamu rasain adalah rasa cemas sambil rebahan, itu namanya bukan malas. Ada perang hebat yang lagi berkecamuk di dalam tempurung kepala kamu.

Kenalan sama 'Manajer' di Otak Kita

Secara sains, fenomena sulit memulai aktivitas ini berkaitan erat dengan sesuatu yang disebut Fungsi Eksekutif. Bayangkan otak kita punya seorang manajer proyek yang duduk di bagian depan, namanya Prefrontal Cortex (PFC). Tugas si manajer ini berat banget: dia yang harus merencanakan, mengatur fokus, membagi tugas, sampai menekan tombol "start" buat kita bergerak.

Nah, masalahnya, si manajer ini sensitif banget sama tekanan. Saat kita merasa tugas yang ada di depan mata itu terlalu besar, membosankan, atau menakutkan, si PFC ini bisa "ngambek" atau kelelahan. Alhasil, instruksi yang dikirim ke seluruh tubuh jadi tersendat. Kamu mau gerak, tapi sinyalnya nggak sampai. Ibarat mau nyalain mobil tapi akinya soak, mesinnya cuma bunyi stater doang tanpa benar-benar jalan.

Ditambah lagi, otak kita punya bagian lain yang lebih purba bernama Amigdala. Bagian ini fungsinya mendeteksi ancaman. Lucunya, buat otak kita, tugas kantor yang numpuk atau skripsi yang nggak kelar-kelar itu dianggap sama mengancamnya dengan ketemu harimau di hutan. Saat Amigdala merasa terancam, dia bakal memicu reaksi fight, flight, or freeze. Nah, kondisi mematung sambil main HP itu seringkali adalah bentuk freeze alias otak kita saking stresnya sampai memutuskan buat nggak ngapa-ngapain aja sekalian.



Jebakan Batman Bernama Dopamin

Selain masalah manajer proyek yang mogok kerja, ada juga peran hormon dopamin. Kita sering menganggap dopamin itu hormon kesenangan, tapi sebenarnya dia lebih ke arah hormon "motivasi" atau "hadiah". Otak kita itu penganut paham ekonomi yang ketat banget; dia nggak mau keluar energi besar kalau imbalannya nggak pasti atau kelamaan didapat.

Ngerjain laporan butuh waktu berjam-jam dan hasilnya baru kerasa pas gajian atau pas dapet nilai bagus (hadiah jangka panjang). Sementara itu, main game atau scrolling media sosial ngasih "hadiah" dopamin instan dalam hitungan detik. Otak yang lagi stres secara alami bakal milih jalan pintas buat dapet dopamin tercepat supaya dia merasa lebih baik. Jadi, saat kamu lebih milih nonton video kucing padahal lagi dikejar deadline, itu sebenarnya cara otakmu melakukan self-medication alias pengobatan mandiri buat meredakan stres, meski caranya agak sesat ya.

Overthinking yang Bikin Lumpuh

Penyebab lain kenapa kita susah banget memulai sesuatu adalah karena kita terlalu banyak mikir atau overthinking. Kita sering terjebak dalam bayangan bahwa hasil kerja kita harus sempurna. Ketakutan akan kegagalan ini bikin kita mengalami task paralysis. Kita jadi terlalu fokus pada betapa sulitnya proses yang akan dijalani, bukan pada hasil kecil yang bisa diraih sekarang.

Biasanya, kalimat yang muncul di kepala itu polanya begini: "Duh, kalau aku mulai sekarang, nanti bagian ini gimana ya? Kalau nanti ditolak gimana? Capek banget kayaknya." Pikiran-pikiran ini bikin beban mental jadi berkali-kali lipat lebih berat dari tugas aslinya. Padahal, seringkali kalau kita udah mulai jalan lima menit aja, rasa takut itu bakal ilang sendiri. Tapi ya itu, buat ngelewatin gerbang "lima menit pertama" itu rasanya kayak mau mendaki Gunung Rinjani pakai sandal jepit.

Berhenti Menghujat Diri Sendiri

Terus, gimana dong solusinya? Apakah kita pasrah aja sama keadaan otak kita? Tentu nggak. Langkah pertama yang paling penting tapi sering dilupakan adalah berhenti menghujat diri sendiri dengan kata "malas". Semakin kamu mengutuk diri sendiri, semakin stres otak kamu, dan Amigdala bakal makin kenceng teriak "Bahaya!". Akhirnya? Kamu malah makin nggak bisa ngapa-ngapain.



Coba deh pakai teknik tipu-tipu buat otak. Jangan mikirin target besar. Kalau mau nulis artikel, jangan mikir "Aku harus nulis 1000 kata". Cukup bilang ke otak, "Aku cuma mau buka laptop dan ngetik satu kalimat aja, habis itu terserah mau lanjut apa nggak." Biasanya, begitu inersia atau kelembaman itu pecah, otak bakal lebih gampang buat lanjut ke kalimat kedua, ketiga, dan seterusnya.

Pahami juga bahwa kapasitas energi mental kita itu terbatas. Kalau memang lagi burnout atau capek banget secara emosional, wajar kalau otak kita "ngadat". Kadang yang kita butuhkan bukan manajemen waktu yang lebih ketat, tapi istirahat yang beneran berkualitas—bukan istirahat sambil main HP yang malah bikin otak makin panas.

Kesimpulannya, sulit memulai aktivitas itu adalah masalah biologis dan psikologis yang nyata, bukan sekadar kurang niat atau kurang disiplin. Dengan memahami cara kerja otak sendiri, kita bisa lebih berempati pada diri sendiri dan pelan-pelan mencari celah buat "menjinakkan" si manajer proyek di kepala kita yang lagi rewel. Jadi, buat kamu yang hari ini masih berjuang buat mulai satu hal kecil: nggak apa-apa, mulai aja dari yang paling receh. Otakmu cuma butuh sedikit pemanasan, bukan cacian.

Tags