Kamis, 20 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bukan di Arab, Populasi Unta Liar Terbesar Justru Ada di Australia, Begini Kisahnya

Tata - Thursday, 20 August 2026 | 11:10 AM

Background
Bukan di Arab, Populasi Unta Liar Terbesar Justru Ada di Australia, Begini Kisahnya

Plot Twist Dunia Fauna: Ternyata Raja Unta Bukan di Arab, tapi di Tetangga Sebelah

Kalau denger kata "unta", apa sih yang pertama kali muncul di kepala kalian? Pasti nggak jauh-jauh dari bayangan padang pasir yang luas di Arab Saudi, piramida di Mesir, atau mungkin foto-foto estetik temen kalian yang lagi liburan di Dubai sambil naik hewan berpunuk ini. Pokoknya, unta itu identik banget sama Timur Tengah. Titik.

Tapi, siap-siap buat kaget. Ternyata, kalau kita ngomongin soal populasi unta liar terbesar di dunia, jawabannya bukan di Arab, bukan di Afrika Utara, melainkan di Australia. Iya, beneran Australia, negara tetangga yang cuma butuh waktu terbang beberapa jam aja dari Bali atau Jakarta. Goks, kan? Plot twist-nya lebih liar daripada drama Korea yang paling mind-blowing sekalipun.

Gimana ceritanya hewan yang harusnya "jagoan" padang pasir Arab malah bisa jadi penguasa di benua kangguru? Dan kenapa hal ini jadi masalah serius buat pemerintah Australia sampai-sampai mereka bingung sendiri mau diapain ini unta-unta? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi.

Sejarah yang Berawal dari Kebutuhan Transportasi

Semua ini bermula di abad ke-19, sekitar tahun 1840-an. Waktu itu, orang-orang Eropa yang baru dateng ke Australia lagi semangat-semangatnya mau menjelajahi bagian tengah benua yang kering kerontang alias "The Outback". Masalahnya, kuda sama keledai yang mereka bawa dari Eropa tuh loyo banget kalau disuruh jalan jauh di cuaca panas ekstrem tanpa air. Akhirnya, mereka mikir: "Eh, kenapa nggak kita bawa unta aja dari India sama Afghanistan?"

Ide ini jenius pada masanya. Ribuan unta didatangkan lengkap sama pawangnya yang dikenal dengan sebutan "Afghan Cameleers". Selama puluhan tahun, unta-unta inilah yang jadi pahlawan pembangunan Australia. Mereka angkut barang, bantu bangun jalur kereta api, sampai bawa suplai makanan ke daerah terpencil. Bahkan, ada kereta api legendaris di Australia namanya "The Ghan", yang diambil dari kata "Afghan" sebagai bentuk penghormatan buat para penunggang unta jaman dulu.



Tapi, namanya juga teknologi, roda pasti berputar. Begitu tahun 1920-an dateng dan mobil mulai masuk ke Australia, jasa unta tiba-tiba nggak laku lagi. Mesin dianggap lebih efisien daripada hewan yang perlu dikasih makan. Terus, unta-unta ini diapain? Bukannya dipulangin ke negara asal (yang pasti ongkosnya mahal banget), orang-orang jaman dulu malah milih jalan pintas: dilepasin gitu aja ke alam liar. Nah, di sinilah bencana—atau keberuntungan bagi para unta—dimulai.

Ketika "Hama" Malah Jadi Berkah yang Merepotkan

Tanah Australia itu kayak surga buat unta. Nggak ada predator alami kayak singa atau harimau yang bakal mangsa mereka. Lahan kosongnya luas banget, semak-semaknya melimpah, dan cuacanya cocok banget sama fisik mereka yang tahan banting. Hasilnya? Mereka kawin lari, beranak-pinak, dan populasinya meledak gila-gilaan.

Sekarang, diperkirakan ada sekitar satu juta lebih unta liar yang berkeliaran di pedalaman Australia. Bayangin, satu juta unta! Ini jumlah yang jauh lebih banyak daripada populasi unta di beberapa negara Arab. Masalahnya, buat pemerintah Australia, unta-unta ini bukan dianggap hewan lucu buat selfie, tapi dianggap sebagai hama atau pest.

Kenapa? Karena unta itu rakus banget soal air. Di daerah Outback yang kering, unta-unta ini bisa ngabisin stok air di sumur-sumur warga atau sumber air alami dalam sekejap. Belum lagi mereka sering ngerusak pagar peternakan, ngerusak ekosistem asli, bahkan masuk ke pemukiman warga kalau lagi musim kering parah cuma buat nyari air dari keran atau AC. Ada cerita viral beberapa tahun lalu di mana ribuan unta ngepung sebuah kota kecil cuma karena mereka haus. Vibes-nya udah kayak film kiamat, tapi musuhnya unta.

Plot Twist Lagi: Arab Saudi Malah Impor Unta dari Australia

Ini adalah bagian yang paling lucu sekaligus ironis. Kita tahu kalau Arab Saudi itu identik sama unta, tapi ternyata kualitas unta liar di Australia itu dianggap "premium" banget di mata orang Timur Tengah. Karena unta di Australia hidup liar dan makan tumbuhan alami tanpa bahan kimia, daging mereka dianggap lebih sehat dan bersih.



Bukan cuma dagingnya, unta Australia juga sering diekspor balik ke Timur Tengah buat dijadikan unta balap atau sekadar buat memperbaiki keturunan (breeding). Jadi, jangan kaget kalau unta yang kalian lihat lagi balapan di Dubai atau yang dagingnya disajikan di restoran mewah di Riyadh, aslinya punya paspor Australia alias "bule".

Pemerintah Australia sendiri sebenernya punya dilema. Di satu sisi, mereka harus ngontrol populasi unta ini (seringnya lewat cara yang kontroversial kayak culling atau penembakan dari helikopter), tapi di sisi lain ada potensi ekonomi besar dari ekspor ini. Cuma ya gitu, nangkepin unta liar di tengah gurun yang luasnya berkali-kali lipat pulau Jawa itu nggak gampang dan butuh biaya gede.

Pelajaran Buat Kita Semua

Fenomena unta di Australia ini ngasih tahu kita satu hal penting: keseimbangan alam itu sensitif banget. Masukin spesies asing ke tempat yang bukan habitat aslinya bisa berujung pada kekacauan ekologi yang nggak terduga. Australia udah ngerasain ini berkali-kali, mulai dari kelinci, tebu, sampai sekarang unta.

Tapi di luar masalah lingkungannya, fakta kalau populasi unta terbesar ada di dekat Indonesia itu tetep aja menarik. Kita nggak perlu jauh-jauh ke Sahara buat ngerasain vibes padang pasir dan ketemu ribuan unta. Cukup nyebrang dikit ke bawah, kita bisa ketemu "raja unta" yang sebenernya.

Jadi, kalau besok-besok ada temen kalian yang sombong pamer foto naik unta di Arab, kalian bisa kasih tahu mereka dengan nada santai: "Keren sih, tapi tahu nggak kalau unta yang paling banyak tuh sebenernya ada di Australia? Deket lho dari sini." Dijamin, temen kalian bakal langsung googling dan ngerasa dunianya berputar balik. Ternyata, dunia ini penuh dengan rahasia receh yang bikin kita geleng-geleng kepala, ya?